LET's

Tampilkan postingan dengan label My Self. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Self. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Mueeza

Beberapa hari ini ada seekor kucing anggora yang sering datang ke rumah. Entah milik siapa, kucing yang sangat lucu juga penurut. Beberapa kali ibu mengusirnya tapi ia kembali lagi ke rumah. Setiap aku ada di rumah ia  selalu mengikuti aku dan adiku Zenith , juga ketika aku pergi ia mengantarku sampai ke depan teras rumah. Menyenangkan sekali.

Akhirnya aku beri nama kucing itu dengan nama " Mueeza" diambil dari nama kucing Rosulullah SAW. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa Rosul sangan menyayangi kucing. 

Sedari kecil aku ingin sekali memelihara kucing. Tapi Ibu memiliki pobia terhadap kucing. Di dekati saja menjerit-jerit. Mana tega aku membiarkan ibu ketakutan. 

Hanya kurang lebih tiga hari Mueeza tinggal di rumah ini. Menemani sisa liburan mengajarku. Kadang ia meyeh-meyeh manja duduk di atas paha ku ketika sedang menonton TV, kadang ia buang air besar di lantai dan aku harus segera membersihkannya sebelum ibu tahu, dan hal yang paling mengherankan dari kucing ini selain sifatnya yang penurut setiap kali aku sembahyang terkadang ia menemaniku di samping sejadah. Mendengarkanku mengaji hingga tertidur. 



Hari esok sudah mulai kembali bekerja, mungkin tak ada yang mengawasi Mueeza terlebih ibu yang tidak mengizinkan aku memelihara kucing. Ibu bilang jika mau memelihara kucing nanti saja jika kelak aku sudah memilki rumah sendiri. Agak bingung harus menyimpan Mueeza kemana, mungkin saja pemiliknya sedang mencari anggora ini. Akhirnya ayah menitipkan Mueeza ke tetangga dekat rumah pak RW. Setidaknya jika pemiliknya mencari kucing tersebut aman. 

Terimakasih Mueeza, senang bisa mengurus kucing anggora seperti kamu. Semoga  bisa bertemu kembali dan semoga kelak memiliki, mengurus kucing seperti kamu di rumah masa depan. Semoga :') 


Mueeza si kucing anggora yang lucu



Jumat, 01 Januari 2016

Hallo 2016 I am Ready ^^

Dear Allah,
I can’t thank you enough for all of your blessing upon me and my family, but I’ll always be gratefull to You for every single breath i take . Thank you for always being with me and not letting me down . Ever.

Hari baru, bulan baru dan tahun baru pada kalender Masehi.
Tidak ada yang perlu dimeriahkan, yang ada hanyalah selalu bermuhasabah akan apa yang terjadi di tahun lalu dan selalu berusaha memperbaiki di tahun berikutnya. Begitulah bagiku makna peralihan tahun baik masehi, hijriah atau bertambahnya usia (berkurangnya jatah hidup).

2015
Bagiku adalah tahun pembelajaran, tahun perjuangan, tahun kesabaran juga tahun keikhlasan. Berbicara tentang nikmat, tinta seluas samudra pun tak akan cukup untuk menuliskan segala nikmat, karunia dan pencapaian yang aku terima dari Allah SWT. Jika berbicara tentang cobaan serta ujian, membuat aku lupa sudah berapa kali air mata menemani perjalanan ini tapi hikmah dari ujian tersebut selalu dapat membuat senyuman dan ketegaran setelahnya. Baik dalam karir, pendidikan, cobaan untuk keluarga juga “Asmara” .

Mari bicara tentang keikhlasan, kuharap kamu yang membaca tulisan sederhana ini, tidak ikut terbawa perasaan. Anggap saja ini pembelajaran tentang keikhlasan sebuah kehidupan, tentang bumbu perjuangan di masa muda.

Pada tahun 2015 ini khususnya di dalam blog sering aku berbicara tentang kepergian, pertemuan, keikhlasan juga perpisahan. Semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari skenario Allah SWT
Kepergian seseorang membuatku tersadar bahwa manusia hanya berhak untuk berencana  jua berusaha. Sesuai dengan kutipan mas gun dalam buku hujan matahari “ Pada akhirnya, orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan. Karena setelah dan sejauh ia mencari, pada akhirnya ia hanya bisa meminta”.

Allah terlalu sayang kepada kita, Allah ingin kita sama-sama belajar menjauh mungkin salah satunya agar kita bisa sama-sama memperbaiki diri terhindar dari hal-hal yang banyak mudharat atau kekhilafan berkepanjangan . Bahkan mungkin diberi kesempatan mempersiapkan diri untuk  kehidupan / masa depan yang lebih baik dengan seseorang yang terbaik.
Aku tak pernah merasa benci ataupun dendam terhadap orang-orang yang pernah mengisi hati lalu pergi. Mereka cukup memiliki asumsi atas semua yang terjadi, terlepas dari itu seua  mereka sangat berjasa dalam kehidupanku khususnya mungkin aku yang belum layak untuk mereka, pun sebaliknya. Tidak sekarang.

Sebelum datangnya ikatan pasti ( khitbah berlanjut pada akad )
Aku tidak pernah memaksa orang lain untuk menunggu
Menghalanginya untuk melupakanku
Memohon padanya untuk memperjuangkanku
Atau menahan mereka pergi

Tak pernah terlintas dihatiku untuk membenci
Karena kita memiliki hak untuk memilih yang terbaik
Mereka pergi tidak untuk mengkhianati
Hanya saja mungkin sedikit berubah pikiran
Untuk melanjutkan perjalanan ini

Sekali lagi tidak sekarang suatu saat mungkin mereka kembali
Mungkin esok, nanti atau bahkan tidak Allah pertemukan kembali
Wallahu’alam

Mari berhusnudzon :
Laki-laki/wanita yang baik pasti akan menjaga dirinya, juga seseorang yang dicintainya. Tidak egois / memaksakan kehendak.

Kita hanya perlu waktu untuk menata kembali hati
Mengumpulkan serpihan yang retak
Membersihkannya jika selama ini terkotori
Allah  hanya menguji tentang kesabaran dan keikhlasan
Tentang cinta sejati atau hanya ujian hawa nafsu

Saat ini biar nikmati perjalanan hidup sendiri
Sebelum dipersatukan dengan yang  Allah telah pilihkan dalam ikatan suci. In syaa Allah.

Terimakasih 2015 semoga menjadi tahun terakhir atas kegalauan-kegaulan yang tidak semestinya, tentang cerita yang mungkin suatu saat kenangan ini hanya bisa kita tertawakan tentang kisah cinta masa muda. Tentang dia yang pernah berjuang dengan tulus , atau tentang dia cerita persahabatan yang hilang karena perasaan. Semoga kamu semua ada dalam lindungan Allah SWT, selalu Allah beri yang terbaik. Dan selalu dicintai oleh orang-orang disekitarmu. Itu do’a terakhirku.

Tahun 2016 mungkin banyak yang harus dikerjakan, FOKUS terhadap akademik perkuliahan untuk meraih magister yang begitu banyak tantangan, juga tentang karir yang selalu ingin ku buktikan sebuah kesuksesan kebanggaan untuk orientasi hidupku saat ini “Orangtua” .  Merangkak mewujudkan mimpi dan harapan dari seorang perempuan yang terkadang terlalu perasa dan lebay ini. Ibu, ayah semoga putri sulungmu ini bisa menjadi anak yang shaliha, selalu berbakti, selalu membanggakan. Agar do’a-do’aku mustajab mengantarkan kebahagiaan untuk dunia dan akhirat kalian. aamiin


Suatu saat in Syaa Allah akan ada masa-masanya kembali jatu cinta kepada seseorang yang membuat nyaman dan merasa aman semoga dia adalah orang yang tepat pilihan Allah SWT  dia yang menerima segala kekurangan diri, selalu membuat ingat kepada Yang Maha SegalaNya,  yang bersedia saling menemani tidak hanya sehidup tapi sesurgaNya.

Meski semuanya Allah yang atur. Tapi tetap jodoh adalah takdir yang harus diperjuangkan. Kita lihat sosok seperti apa beliau? Hanya bisa menjalani setiap episode yang telah Allah  gariskan. Sembari berikhtiar yang terbaik, merekam jejak-jejak kehidupan. Dalam sebuah tulisan amatiran ini. Wallahu'alam bi shawab

Persiapkanlah, dari sekarang. Karena saat kamu menggenapkan kehidupanmu nanti. Hidup kamu bukan tentang dirimu sendiri lagi. Akan tetapi tentang calon pasanganmu dan calon anak-anakmu kelak. Mereka berhak atas dirimu yang lebih baik. Jadi persiapkanlah” Genap-Nazrul Anwar

Dear Allah, thank you  for another chance. Dear past, thank you for the lessons. And Hallo future, I’m READY J .

Friday, 01/01/16
Devi P.S



Minggu, 27 Desember 2015

Musibah Celengan di Akhir Tahun


Saya memiliki kebiasaan menyimpan uang di dalam celengan. Ibu selalu mengajarkan saya untuk selalu menyisihkan uang jajan sedari kecil. Seiring bertumbuh dewasa saya sadari menabung adalah suatu investasi yang menjanjikan. Karena dengan tabungan itu kita bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan apapun.

Ada satu cerita yang seumur hidup baru pertama kali saya alami. Khususnya di akhir tahun 2015 ini. Semoga bisa menjadi Tadzkirah ( pelajaran hidup ) untuk saya dan yang membaca ini.

Sejak bulan  april  2015 lalu, setiap satu bulan sekali ketika mendapat honor private atau hasil dari gaji mengajar saya sisihkan sekitar 100-300 saya tabungkan ke dalam celengan sisanya saya pakai untuk kebutuhan yang lain, karena Alhamdulillah selepas lulus saya sudah mengurangi jatah uang jajan atau meminta uang kepada ayah dan ibu. Rencananya uang tersebut saya akan simpan di Bank,  setidaknya sedikit membantu biaya semesteran S2 yang jatuh tempo pada awal januari mengingat ajuan beasiswa dari pemprov jabar yang saya ajukan bulan lalu belum ada tanggapan. Walau mungkin tidak seberapa dari jumlah total biaya kuliah tapi setidaknya saya berharap bisa meringankan beban orang tua.

Tepat setelah shalat dzuhur tadi saya bersama adik membuka celengan tersebut dengan ekspektasi selembaran uang kertas yang saya prediksi mungkin sekitar 1,6 jutaan dan  uang koin recehan 500 dan 1000. Celengan yang saya buka sama sekali tidak ada kerusakan, masih dalam keadaan utuh tanpa cacat, celengan tersebut pun saya simpan di tempat yang aman. Tapi subhanallah luar biasa kagetnya ketika saya bongkar yang tersisa hanya uang koin recehan 500 dan “satu” lembar uang 50.000 beserta ada bebera daun kering. Demi Allah begitu sangat terkejutnya saya, seumur hidup baru kali ini hilang uang di celengan dengan jelas-jelas masih teringat dalam pikiran saya bahwa setiap bulan saya selalu memasukan uang kertas ke dalam celengan ini walau mungkin tidak terlalu banyak. Yang tersisanya hanya kumpulan uang koin yang saya hitung berjumlah 230.000 dan satu lembar 50.000.
 Ini pengalaman yang sangat ganjal sekali susah dipahami oleh logika. Siapa yang dengan tega mengambil tabungan hasil keringat orang lain. Jika memang manusia kenapa celengannya masih dalam keadaan utuh? Apa memang ada yang menukarnya dengan bentuk dan motif celengan yang sama?Kenapa si pencuri tidak mengambil utuh satu celengan saja? jika berpikir  hal gaib adakah di zaman seperti ini makhluk astral semacam itu ? Tuyul ?

Sungguh hati ini sulit sekali untuk berbaik sangka disaat musibah seperti ini. Tidak ada yang tahu kapan kita akan kehilangan sesuatu. Yang bisa dilakukan hanya menduga-duga bersama orang rumah mengapa hal ini bisa terjadi padahal perasaan memang tidak ada yang tahu dimana saya menyimpan celengan tersebut.

Ini mungkin bisa menjadi pelajaran kepada diri saya, sebesar apapun perasaan kita menyimpan sesuatu ada kalanya kita lalai. Sedangkan orang lain mungkin saja tidak berniat jahat, tapi jika ada kesempatan semua bisa terjadi. Wallahu’alam hal itu bisa terjadi, dan siapa yang dengan tega melakukan kejahatan tersebut. Allah maha berkehendak.


Saya tidak mau berlarut atas kehilangan ini, walau pasti selalu jadi bahan untuk dipikirkan, kisah ibu dan ayah juga pernah hilang uang (tertipu) ratusan juta tapi in syaa Allah Allah selalu memberikan pelajaran, hikmah dan tujuan disetiap musibah ikhlas dan ridho terhadap materi yang diambil dari hidup kita mungkin adalah salah satu usaha untuk melapangkan hati. Anggap saja uang itu sedekah untuk seseorang yang membutuhkan kedepannya mungkin sedekah harus ditingkatkan lagi dan jika memang ingin menabung dengan uang kertas sebaiknya langsung ditransferkan saja di bank yang tidak ada ATM-nya atau membuat tabungan berjangka agar tidak terkuras habis disatukan dengan uang jajan. Semoga Allah selalu memudahkan saya dalam mencari rejeki yang lebih banyak yang in Syaa Allah diganti dengan yang lebih berkah. 

Sabda Nabi: Cintailah segala sesuatu didunia dengan segenap dan sepenuh hati, niscaya suatu saat  itu pasti akan meninggalkanmu. Hadis ini berasal dari ucapan Malaikat Jibril kepada nabi saw : Hai Muhammad hiduplah semaumu, kelak pasti engkau mati, Cintailah siapa saja, tetapi engkau pasti berpisah dengannya dan beramalah semaumu, pasti engkau akan mendapatkan balasannya.




Kamis, 10 Desember 2015

Bermesraan Diantara Do'a dan Hujan

      Hari ini seperti biasa sepulang dari kampus, air hujan tidak bisa dihindari. Malas jika harus terus melawan arusnya terlebih kondisi tubuh kurang baik, dan tugas kuliah kian menumpuk menjelang UAS, jam mengajar juga meningkat. Rasanya tidak lucu jika tumbang bukan pada waktunya. Kata teman-teman jika menghadapi keadaan seperti ini, harus rajin minum suplemen dan kembali rutin berolahraga sekedar melawan musim pancaroba seperti ini.

Selalu bersyukur ada si Ujang yang selalu mengantarkanku kesana kemari, rela hujan-hujanan kadang ku jadikan dia sebagai perahu jika kebanjiran. Ya panggil saja Ujang. Motor vario merahku yang selalu menemani sejak jaman S1 hingga sekarang berjuang di jenjang lebih tinggi. J

Sedikit melirik layar telepon genggam ada pesan line dari murid yang seharusnya  terjadwalkan private sore ini “ Kaa Dev  aku lesnya sabtu sore aja, seninnya UAS kimia” ku jawab “OK” dengan mengirim stiker tanda penyemangat.

Ku putuskan untuk mampir sebentar di suatu toko buku. Bulan ini rasanya ada beberapa buku yang ingin ku beli tentang kimia, pendidikan, dan sastra mumpung masih terhitung tanggal muda. Aku tak pernah merasa puas jika berbicara tentang buku, pena dan tulisan. Setidaknya merekalah teman setia ketika batin berperang melawan sepi. Membaca dan menulis.

Hujan masih mengguyur bumi, aku menunggu sedikit reda di salah satu cafe mall dekat toko buku ini sekitar jalan Merdeka, Bandung. Sembari meminum secangkir coklat panas dan menumpang wiFi gratis sedikit menyelesaikan tugas analisis jurnal kinetika untuk dipresentasikan pekan besok.
Ya tapi beginilah perempuan, kurang berfokus. Baru saja kuselesaikan makalah satu halaman. Sudah beralih pikiran tentang sebuah analogi antara hujan dan do’a. Bagaimana bisa? kalian tahu bahwa hidayah menulis itu datang tidak terkira bisa kapan saja. Saat bangun tidur, saat kalian sedang di toilet atau sedang seperti sore ini.


Sebenarnya inti dari tulisan ini bukanlah hal-hal konyol yang ku curhatkan di atas, anggaplah itu sebuah pengantar intermezo dari seorang perempuan yang sedang mengigau, yang ingin kutulis disini adalah bagaimana keterikatan antara hujan dan do'a

Entah kenapa aku suka sekali tentang hujan.
Ia terkadang menjengkelkan, tapi tetap dinantikan sekedar melepas kegersangan bumi. Ia juga pergi dan datang secara tiba-tiba membuat siapapun terkadang tak bisa menghindarinya.
Salah satu yang kusukai disaat hujan adalah ia adalah tempat mustajabnya do’a. Bagaimana tidak aku sering memenjamkan mata disaat hujan lebat. Sekedar untuk berdo’a meminta setulus hati kepada sang Maha Segalanya. Memohon yang terbaik untuk diri kita atau untuk orang lain. Mungkin begitulah salah satu caraku mendekat pada Allah bermesraan diantara do'a dan hujan. 

Tapi pernah tidak terpikir oleh kita bahwa semua pencapaian yang telah kita peroleh itu selain dari hasil ikhtiar  adalah berkat  do'a-do'a dari orang-orang yang selalu menyanyangi kita dengan tulus?

aku mulai tersadar dan  bersyukur atas keadaanku saat ini, terlepas dari segala keterbatasan, kelebihan dan pencapaian hidup yang aku lalui selain hasil dari ikhtiar. Semuanya tentu atas izin Allah SWT yang telah meridhai takdir dan mengabulkan orang-orang yang senantiasa mendo’akanku. Pernah kubaca salah satu postingan line muridku Dian Dwi  kini Dian sudah kuliah yang ia cita-citakan ITB FPMIPA. Postingan dari tulisan Mas Gun :





Postingan di atas sedikit bikin melting. Aku juga tidak tahu kenapa Mas Gun mencoret kata kamu di kutipan postingannya itu. 

Tapi intinya jangan pernah kita sepelekan arti sebuah do’a ,Allah selalu mendengar do’a-do’a hambaNya. Cara mewujudkannya tentu Allah memiliki cara yang berbeda-beda ada yang cepat, ada yang di tunda atau bahkan ada yang digantikan dengan yang lebih baik. Semua kembali kepada paradigma kita tentang arti tawakal kepada ketetapanNya. Do'a itu tidak hanya permintaan tapi sebuah kepasrahan diri seorang hamba kepada Rabb-nya. di luar kuasa manusia hanya Allah yang bisa membuat segalanya terjadi yaitu dengan do'a-do'a yang kita panjatkan.

Ketika kamu menginginkan sesuatu, mungkin kamu pernah berkata kepada mereka " Minta do'anya ya? Do'ain yang terbaik ya!" Wallahu'alam jika memang  mereka benar-benar mendo'akan kita dan Allah kabulkan. 

Sehingga, jika kamu telah berhasil, sehat, sukses atau apapun yang membuat kamu merasa puas dan bersyukur atas apa yang kamu miliki saat ini. Berterimakasihlah kepada orang-orang yang senantiasa mendo’akanmu terlebih orang tua, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang selalu mendukung lagi mencintaimu. Bahkan mungkin kamu sendiripun tidak pernah tahu jika di belahan bumi mana ada orang yang senantiasa mendo'akan kebaikanmu secara tulus dengan diam-diam. Cukup hatinya dan Allah yang tahu bahwa kamu adalah salah satu nama yang sering diselipkan dalam do'a. 

Semoga kita menjadi salah satu orang yang mendo’akan orang lain pula, karena kado terbaik adalah do’a yang diam-diam dipanjatkan dalam sujud kita.

Diantara jarak dan waktu, terkadang do’a adalah wujud suatu kepedulianmu, rasa cintamu terhadap orang yang mungkin berharga bagimu. Saat mungkin kamu tidak bisa bertemu dengannya atau bahkan menyapanya.
Do’a-doa yang kita titipkan setiap bulirnya mungkin tercatat oleh jutaan malaikat. Mempertemukan kita dalam kebaikan diakhirat kelak.

Doa adalah senjatanya orang mukmin. Doa bahkan merupakan pangkal atau ‘otak’nya ibadah Kata hadits Rosulullah SAW.

Semoga do’a itu terus menyirami kita seperti curahan hujan yang tak pernah alfa menyirami bumi. Aamiin

- Bandung, 10 Desember 2015 -

- Devi Pratiwi Sudrajat - 


Do'a, harapan, hujan, dan penantian mungkin di ilustrasikan pada lagu efek rumah kaca, selalu ada kebahagiaan setelah hujan, Entah itu langit cerah, pelangi indah, redanya banjir setelah hujan di  bulan Desember.

DESEMBER

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka


  






  







Sabtu, 12 September 2015

Quantum Ikhlas



“Allah ingin kita selalu belajar, belajar mencintai yang sewaktu-waktu pergi, menyayangi yang sewaktu-waktu hilang atau merindui yang sewaktu-waktu mati. Disana kita banyak belajar menyikapi kesendirian bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi” – Devi Pratiwi –

Pada hakikatnya kita bertemu untuk berpisah.

      Keterpisahan kata Rumi hanya tipu daya waktu. Karena setiap awal memiliki akhir, setiap pertemuan diringi perpisahan, setiap jiwa yang hidup pasti akan mati. 
Sungguh rumit jika kita memikirkan dan mempertanyakan recana Allah atas pertemuan kita. Bila pertemuan ini mengandung rahasia. Rahasia apa yang hendak Allah rencanakan ?
      Allah memberikan kita banyak ujian, menyampaikan pesan dan hikmah agar kita bisa selalu belajar. Ujian itu mungkin berupa sebuah pertemuan dan perpisahan.  Ujian itu mungkin berupa rasa kecintaan kita terhadap makhluk, terhadap dunia, terlalu ingin memiliki namun lupa yang ingin kita miliki sebenarnya suatu saat tanpa terduga dapat diambil dengan begitu mudahnya oleh sang Maha Memiliki.
        Selalu banyak cara Allah untuk mempertemukan dan memisahkan kita entah takdir antara seorang anak dan orang tua, suami dan istri, persahabatan, rekan kerja atau sepasang kekasih. Hanya tinggal persoal waktu seberapa lama kita memiliki jatah untuk bersama.

Pertemuan itu diiringi kebahagiaan dan kepergiaan itu diiringi keikhlasan

Engkau pernah melihat isak tangis haru orangtua  ketika pertama kali berjumpa dengan buah hatinya. Harapan tumbuh subur terhadap sang anak agar kelak menjadi insan yang paripurna. Atau engkau pernah melihat dua sejoli yang sedang jatuh cinta? pertemuan adalah hal yang paling membahagiakan dengan harapan “kelanggengan” selalu menyertai mereka. Indah karena pada hakikatnya sebuah pertemuan selalu diiringi dengan kebahagiaan.
 Hal itu tentu bertolak belakang dengan sebuah perpisahan. Isak tangis sang anak  ketika di batu nisan orangtuanya berharap sepenuh hati agar do’anya Allah dengar untuk kebaikan kedua orangtuanya. Pun dengan sejoli yang terlalu berharap banyak, perpisahan menjadi momentum saling membenci, memutuskan ikatan silahturahmi tapi ada juga yang menerimanya dengan penuh kesabaran serta penerimaan. Walau getir, itulah yang disebut dengan kedewasaan. Karena pada hakikatnya perpisahan selalu diiringi kesedihan salah satu penawarnya dengan keikhlasan yang membutuhkan proses.

Ketika engkau memutuskan untuk berpisah

         Pernahkan engkau merasa dalam persimpangan jalan?  mungkin terlalu bingung mana yang jalan yang harus kita lalui mempertahankan meski engkau tau begitu rumit atau melepaskan meski terasa masih indah. Beban ini tidak hanya pernah terjadi padamu, tapi padaku juga.
Tapi baru kali ini aku merasakan kelegaan tentang arti sebuah perpisahan. Meski sulit, meski sakit hal itu sedikit melegakan. Karena aku tau perpisahan ini untuk kebaikan, berpisah dengan kesadaran dan kedewasaan. Jalan untuk merelakan sesuatu yang amat dicintai adalah jalan kerelaan untuk untuk yang dicinta. Bukan untuk menyerah tapi kumaknai sebagai kesiapan untu menerima apapun yang kelak akan digariskan Allah.
      Disaat pertemuan dulu banyak harapan yang kita gantungkan, namun lagi-lagi hidup tak sepenuhnya berjalan sesuai rel rencana manusia. Disepanjang jalan itu ekspektasi tidak selalu berbanding dengan realita. Ada hal-hal yang mungkin harus diprioritaskan dan dikorbankan. Seandainya, disini aku bertindak sebagai korban dan bukan prioritas tidak dipungkiri aku merasa sangat kecewa karena mungkin harapan yang pernah aku tanam harus terkubur demi kebaikan bersama, katanya. Namun lagi-lagi aku harus merelakan sesuatu yang benar-benar belum menjadi milikiku. Aku harus sadar diri, bahwa perpisahan adalah jalan terbaik untuk saat ini. Entah kedepannya Allah mempersiapkan rencana apa lagi. Kesabaran adalah hal yang terbaik untuk dipertahankan. Tidak perlu memaksakan waktu untuk bersama jika memang belum sampai.  Aku hanya tak ingin menjadi beban untuk hidup seseorang saat ini. Pertemuan itu telah banyak membuat aku belajar tentang cinta, persahabatan, persaudaraan juga perjuangan.

Bab yang paling sulit adalah ilmu ikhlas

       Tidak mudah untuk melepas seseorang yang mungkin kita kasihi, sudah lama juga kita menaruh hati atau menyimpan banyak harapan, kenangan dalam perjalanan hidup. Kita merasa gejolak jiwa selalu menuntut untuk bisa selalu bersama. Baik itu untuk keluarga, sahabat, atau orang-orang yang kita cintai.  Tetapi aku kian sadar bahwa ketaatan butuh pengorbanan. Bukankah Allah pernah berjanji bahwa apabila kita meninggalkan sesuatu karena Allah maka Ia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Pun harapanku begitu, melepaskan merelakan kepergian seseorang karenaNya semoga menjadi tidak sia-sia, tidak ada penyesalan. Kita bertemu secara baik-baik pun ketika kita berpisah aku ingin kita selalu dalam keadaan baik. Tapi sebaik dan semanis apapun perpisahan tetap saja ia memisahkan, bukan?. Bagaimanapun alur hidup ini setidaknya pernah berusaha setulus hati, Karena Allah tidak ingin kita menyerah tapi ingin kita berserah. Semoga setiap kejadian menjadikan kita menjadi  pribadi yang lebih baik lagi.aamiin

Innalillahi wa innailaihi roji’un : sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali". 

Semoga selalu ada ampunan pada,  harapan disetiap pertemuan dan kesedihan disetiap perpisahan.

Devi Pratiwi S
12/09/15





Jumat, 31 Juli 2015

Antara Aku, Hijrah dan Jodoh

#NoteToMySelf
Oleh : Devi Pratiwi Sudrajat



Beberapa hari kemarin saya bercakap dengan seorang sahabat. Kebahagiaan meliputi dikarenakan ia mulai menjalankan kewajiban mengenakan jilbab. Namun ada satu renungan untuk diri disaat kami mulai bebagi pengalaman. Sungguh tak bermaksud merasa diri jauh lebih baik karena kataqwaan seseorang hanya Allah yang patut menilai namun ada satu yang mengganjal di hati.

saya tanyakan kepadanya. “apa alasan kamu berhijrah ?”
Sahabatku mengatakan “Aku ingin memiliki jodoh yang baik”. Saya tersenyum lalu  bertanya kepada diri sendiri. Wahai diri apa alasanmu pun seperti itu?  Apa alasanmu berhijrah dikarenakan manusia? bukan benar-benar ingin taat kepada sang Maha pencipta ?

Saya yakin kita semua tau bahwa amalan seseorang dilihat dari niatnya. Jika niat hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya. Namun, jika hijrahnya karena seorang wanita, ia akan mendapatkannya, tapi tidak dengan Allah dan Rasul-Nya. Lalu, ketika niat memperbaiki diri yang dimaksud adalah untuk mendapatkan jodoh terbaik.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Semua tidaklah salah karena Allah yang menjanjikan, dengan ia mau menjalankan kewajiban mengenakan jilbabpun itu sudah sangat baik. “Jodoh adalah cerminan diri” adalah kalimat yang baik untuk memotivasi dalam kebaikan, hanya kadang terpikir segala yang kita lakukan memperbaiki diri, beraktivitas, bekerja, beribadah pernahkah terlintas untuk diniatkan lillahita’ala . Zat memberikan kita kehidupan zat yang mengatur qada dan qadar.  Niat kita untuk mendapatkan ridho Allah. Sebab, yakin pasti kebutuhan atau keinginan kita akan mengekor setelahnya. Allah Maha Tahu semua tentang kita, sedetil-detilnya. Bukankah lebih baik kita mendapatkan keridhoan Allah, ketimbang dunia dan seisinya? Api neraka yang  panas sekalipun akan menjadi sejuk jika Allah ridho. Para pendosa sekalipun bisa jadi masuk surga asal Allah ridho. Apalagi jodoh dan rejeki yang sangat mudah bagi Allah?

Dan satu yang pasti ketika kita memperbaiki diri. Siapakah yang patut menilai kita sudah baik ? hanya Allah bukan? Karena terkadang manusia hanya melihat kualitas seseorangi secara parsial tidak menyeluruh. Perihal nanti akan dijodohkan dengan siapa kita hanya wajib berikhtiar pada akhirnya Allah yang menentukan. Ketika Rosulullah SAW berjodoh dengan Siti Khadijah, Fatimah r.a dengan Ali ra, Fir’aun dengan Asiah. Atau aku dengan kamu. Hanya Allah yang tahu kebaikan untuk kita. Allah merahasiakan itu semua agar kita mau mengusahakannya bukan? Kita ditakdirkan untuk dilahirkan ke dunia hanya kita diwajibkan untuk memilih jalan baik atau buruk. Jika landasan kita karena Allah semoga Allah pun menetapkan takdir yang baik untuk kita. 

Di dalam do’a iftitah yang kita lafalkan setiap shalat, “ inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamati lillahi robbil-‘alamiin” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Sudahkah kita mengamalkanNya? tentu hanya diri kita yang  mampu menjawabnya.

Kesalahan kita, kemaksiatan kita dimasa lalu diwajibkan untuk kita perbaiki, dan semoga perbaikan itu ikhlas karenaNya agar tidak kecewa pada ketetapanNya.. Hidup adalah perjalanan pendek, hanya sebentar. Tak akan ada habisnya jika kita terus memikirkan tentang kehidupan dunia. Memikirkan hidup enak tapi lupa memikirkan mati enak. Karena sifat dasar manusia tidak pernah puas terhadap apa yang didapat.
 Semoga menjadi renungan untuk diri ini yang banyak khilaf. Wallahu’alam bishawab.





Minggu, 12 Juli 2015

Alasan Kita Bertemu



Begitu agungnya yang Maha Kuasa telah menciptakan berbagai macam makhluk dan gen yang berbeda-beda.
Aku tidak pernah menghitung sudah berapa banyak manusia  yang telah bertatap muka dengan berbagai macam bentuk di muka bumi ini ? pernah berpikir untuk apa kita bertemu ? kenapa harus dia? Kenapa harus kita ? kebetulan? atau takdir?

Ditengah keajaiban tentang sebuah pertemuan, perkenalan, saling berinteraksi sehingga mengakibatkan banyak peristiwa, dan rasa. Baik menjadi teman, sahabat, pacar, tentang perasaan bahagia, kecewa, jatuh cinta, patah hati atau sejuta rasa yang telah terjadi.

Semua tidak ada yang sia-sia,
Ketika merasa bahagia Allah ingin membuat hati kita selalu bersyukur atas nikmatNya
Ketika merasa sakit Allah ingin kamu menghargai masa sehatmu serta menggugurkan dosa-dosamu
Ketika menyesali arti sebuah perpisahan Allah ingin kamu lebih menghargai seseorang yang pernah ada untukmu,
Ketika  merasa sedih dalam ujian berat Allah ingin kamu bersabar dan tegar.
Ketika merasa sangat kecewa Allah ingin bahwa kamu mengetahui bahwa betapa pedihnya sebuah pengharapan terhadap manusia, Allah mungkin cemburu ketika kamu selalu mendahulukan selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara yang sia-sia. Lalu ia pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik,  lagi-lagi tanpa kita sadari membuat pribadi kita menjadi lebih baik lagi.

Terkadang hikmah memang disadari jauh setelah peristiwa itu terjadi. Membiarkan hati sakit terlebih dahulu, menyesal atau mengijinkan akal menerawang tertawan sementara oleh banyak prasangka. Karena sebesar apapun ujiannya dalam hidup kita berusaha tidak menyalahkan seseorang mungkin sekalipun peristiwa yang kita alami sangat menyakitkan memaafkan seseorang memang tidak bisa mengubah keadaan dimasa lalu namun bisa melegakan masa kini dan berharap masa depan yang lebih baik. Bagaimanapun buruknya dia dimasalalu mungkin tidak terlepas dari kekurangan kita juga. Atau dampak apa yang telah kita lakukan dulu. Wallahu'alam. Semua itu akan menjadi cerita tentang betapa hidup terkadang harus seperti cerita fiksi ada pengarang sebagai pengatur alur dibalik apa yang di alami oleh para tokoh. Semua akan bilang " Semua ada hikmahnya " pada waktunya, ketika kita berhasil melewatinya.


Untuk seseorang yang ada di masa lalu, kini dan akan datang mereka selalu memberikan arti baru. Di setiap hela peristiwa, pada cinta,  pada rindu, pada hikmah, juga pada segala yang tak bisa di ungkap oleh kata.
Sebuah pertemuan itu selalu memiliki alasan, entah menjadi kebahagiaan atau menjadi pelajaran apapun yang terjadi dengan kita nanti percayalah kita bertemu bukan karena kebetulan, tapi karena skenario Tuhan.


Devi Pratiwi S

11/07/2015


Jumat, 19 Juni 2015

Dunia Profesi dan Pasca Sarjana



“ Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat”

Sudah hampir sembilan bulan lamanya rindu menulis disini, bukan karena tidak mau. Tapi karena waktu yang mungkin belum tepat kucurahkan segala perasaan disini. Mungkin bisa dibilang akhir-akhir ini “So Sibuk”. Tapi sebenarnya aku tak lupa menulis. Serpihan-serpihan perasaan, gagasan, harapan, masih kutilis berserakan di Note Handphone atau di note book. Dimana saja asal ada yang mendengar walau mereka tetap bungkam tidak bersuara.  Tapi hari ini khusus kusempatkan mengunjungi dan menuliskan rasa syukur tentang memasuki dunia baruku.

2015 di tahun ini Allah telah merahmatiku usia yang menginjak 23 tahun. Muda? Tentu saja tidak muda lagi aku bukan lagi ABG. Tua juga tidak, aku lebih senang menyebutnya dengan usia menuju matang. Usia dimana seseorang sedang merangkak meniti kesuksesan dari nol.

Selepas September 2014 lalu aku diwisuda sebagai tanda aku telah lulus kuliah dan resmilah menjadi sarjana pendidikan kimia. Beberapa hari setelah itu aku mencoba melamar perkerjaan tentunya menjadi seorang pengajar/ pendidik. Aku masukan CV dan legalisasi Surat Tanda Lulus  *saat itu ijazah belum keluar* ke beberapa Lembaga pendidikan formal (Sekolah) dan informal (Bimbingan belajar). Tidak lama setelah itu ada beberapa panggilan baik dari sekolah swasta maupun tempat bimbel aku jalani beberapa tahap test TPA, microteaching dan konten. Dengan kehendak Allah SWT akhirnya aku mulai bekerja di sebuah bimbingan belajar ternama di Kota Bandung. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang aku ambil dari lembaga ini. Ilmu yang alhamdulillah dapat aku amalkan kepada anak didiku serta mengenal rekan-rekan kerja yang heterogen. Alhamdulillah di lembaga ini aku merasa rekan-rekan kerja memiliki rasa empathy tinggi.

          Mengajar adalah cita-citaku sejak kecil. Entah kenapa aku senang menghadapi anak-anak yang memang notabene memiliki karakter dan kemampuan intelegen yang berbagai macam. Terlebih mengajar di tempat bimbel jauh berbeda dengan mengajar disekolah. Disini kita dituntut untuk bersabar dalam menghadapi peserta didik karena mengajar di bimbel mengedepankan pelayanan terbaik agar anak mendapat prestasi disekolah sebaik mungkin. Anak didiku memanggilku “Kakak” tidak lagi ibu seperti kala aku mengajar disekolah dulu.  Ya memang berbagai macam, ada yang datang dan serius belajar, ada yang datang hanya untuk memenuhi absensi, ada juga yang inginnya curhat dan malas belajar. Disitulah peran kita diposisikan sebagai tutor tidak hanya sebagai guru. Kedekatan dengan anak lebih di utamakan, jika kita sudah dekat dengan anak tersebut akan merasa nyaman dan kita menjadi tau kesulitan belajar dan masalah yang dihadapi anak didik kita. Ya begitulah walau baru delapan bulan tapi rasanya nano-nano ^_^ .


          Dalam karier tentu setiap orang memiliki pencapaian tertentu. Di Tahun 2015 ini aku ingin sekali, diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana. Dengan niat yang kuat, usaha, do’a dan keyakinan pada tanggal 2 April tepat hari ulang tahunku. Aku mencoba mendaftarkan diri mengikuti seleksi pasca sarjana di UPI Bandung. Mengingat kampus ini adalah kampus idamanku, sayangnya 2010 lalu aku gagal SNMPTN, tapi ditahun ini Allah menunjukan kebesarannya,  Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat dan  di Tahun 2015 ini Allah menjawab do’a dan harapanku. 2 Ramadhan tepatnya 19 Juni Aku dinyatakan LULUS sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia program studi Pendidikan Kimia. Tidak pernah berhenti rasa syukur ku panjatkan atas kesempatan ini. Allah selalu ada untuku.

          Kabar gembira ini tentu aku sampaikan kepada kedua orang tua, sahabat-sabahat yang senantiasa mendo’akan dan mendukungku. Untuk mereka yang selalu mencintaiku dengan tulus. Ayah bertanya “ Yakin mau lanjut S2?” aku jawab “ Yakin” dengan mantap. “ Ayah lulusan S1 dan berharap punya anak memiliki pendidikan lebih tinggi, Ibu menjadi guru berharap anaknya bisa jadi dosen. Lulusan S2 mungkin sekarang banyak, jangan hanya sekedar untuk bergaya. Tapi diniatkan dengan baik mau dibawa kemana gelar kita” Ungkap ayah.   
          Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku tidak mau menjadikan sekolah ini sebagai beban, ajang untuk mencari gelar saja. Tapi bagaimana di jenjang ini aku bisa belajar dan mencari ilmu sebanyak dan sebaik mungkin agar kelak aku bisa menebar manfaat dimanapun aku berada. Urusan nanti jadi guru , dosen, PNS atau ibu rumah tangga. Aku selalu tawakal tentang ketetapan Allah pasti terbaik walau pasti akupun memiliki harapan tentang masa depan. Pun kedepannya semoga Allah kembali meridhoi usahaku dan mengizinkan untuk mendapat beasiswa agar bisa meringankan beban ayah dan ibu.

          Banyak orang mengatakan untuk apa seorang perempuan sekolah tingg-tinggi karena pada akhirnya ia akan mengurus rumah tangga. Memang benar kodrat seorang perempuan kelak jika telah menikah adalah keluarga sebagai prioritas. Pendidikan tinggi untuk perempuan pada intinya bukan untuk menyaingi laki-laki atau sebagai karyawati. Namun, bukankah seorang manusia akan menjadi suatu generasi terlahir dari rahim seorang wanita, dididik oleh seorang wanita, sebagian gen kecerdasan itu warisan dari wanita. Oleh karena itu aku masih percaya jika generasi terbaik dilahirkan oleh wanita terbaik pula.
Walau pada akhirnya setiap wanita harus meminta persetujuan dari suami tentang profesi dan karir mereka agar tidak meninggalkan hak dan kewajibannya ketika kelak sudah memiliki keluarga sendiri. Pun begitu pula diriku kelak. Karena satu nasihat yang selalu ku ingat bahwa “Keberhasilan tertinggi seorang wanita akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapat ridha dari orangtua dan suaminya, sebuah hadits mengatakan pelayananmu terhadap suamimu, adalah surga atau nerakamu”. Perihal ada statemen bahwa laki-laki akan minder jika seorang perempuan memiliki pendidikan terlalu tinggi. Aku tidak sepenuhnya percaya. Laki-laki yang mampu menjadi imam yang baik justru ia yang berusaha menjadi yang terbaik, sama-sama memantaskan diri, tidak memandang rendah atau terlalu tinggi orang lain. Yang mampu menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing agar suatu saat dapat saling melengkapi bersama-sama menggapai ridho IllahiRabbi. In Syaa Allah.  

Selamat datang dunia Profesi dan Pasca Sarjana. Semoga aku selalu dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama dan bangsa. Selalu menjadi manusia yang bermanfaat.
Diberi kelancaran dan kemudahan dalam setiap prosesnya. Dan yang paling penting yang kuharapkan semoga Allah selalu ridha dalam setiap cita-citaku. Aamiin

Bismillah,



Devi Pratiwi Sudrajat. J

Kamis, 18 September 2014

Wisuda 2014 Buah Dari Perjuangan


Sepenggal episode hidup :

“ Skripsi ini ku persembahkan untuk Allah, keluarga, sahabat, para guru dan untuk yang ku cintai lagi mencintaiku “

Tentu saja disini aku tidak akan menulis skripsi,  kalimat di atas hanya sebuah kutipan ucapan syukurku di lembar tugas akhir strata-1 . Alhamdulillah segala syukur ku panjatkan kepada Allah SWT Tuhan semesta Alam karena atas izinNya aku berhasil menyelesaikan studi Sarjana Pendidikan tepat waktu. Allah menjawab do’a-do’ku serta do’a-do’a orang yang selalu senantiasa mendukungku menemani perjuangan ini. Wisuda adalah jawaban atas do’a dan buah dari perjuangan studi, setidaknya ini salah satu caraku untuk membahagiakan kedua orang tua karena aku tahu jasa dan perjuangan mereka untuk mendidik dan menyekolahkanku itu bukanlah perkara mudah. Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain kita bisa membuat orangtua tersenyum dengan sebuah usaha kita. Terimakasih ayah dan ibu semoga Allah selalu menyanyangi kalian membalas kasih sayang kalian dengan banyak kebaikan.

Kemarin dalam acara pelepasan wisuda prodi pendidikan kimia aku berkesempatan untuk menjadi perwakilan wisudawan/wati untuk menyampaikan pidato kelulusan di depan para dosen, orang tua, adik tingkat dan kawan-kawan seperjuangan.Tak banyak yang dapat kusampaikan selain rasa syukur yang teramat dalam menyampaikan penggalan kalimat bahwa “Wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, tapi merupakan fase awal memasuki dunia yang baru  dunia dimana kita dihadapkan dengan dunia yang sebenarnya sebagai awal dari pendewasan (profesi)”.
Berasa kemarin aku menangis belum lulus SNMPTN ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) seandainya kau tahu mataku sembab seminggu kala itu berat badan turun drastis*terdengar berlebihan memang* karena aku rasa aku sudah berjuang semaksimal mungkin  tapi takdir berkata lain. Sering kali dalam hidup kita tak pandai fahami takdir  tapi sungguh ketika dijalani Allah memiliki rencana yang sangat indah. Sedari kecil aku memang bercita-cita menjadi guru, ketika itu aku harus mengambil “Planning hidup kedua” percis kurang lebih empat tahun yang lalu aku menginjakan kaki di Universitas ini setelah dinyatakan lulus ujian tulis dengan serangkaian tahapan dari mulai test pengetahuan umum sampai keagamaan.  Dan Allah menakdirkan aku menjadi mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri  Sunan Gunung Djati Bandung kupikir nama perguruan tinggi ini panjang sekali. UIN universitas yang punya label “ISLAM” katanya. Jelas karena Perguruan Tinggi Negeri ini berada dalam naungan Departemen Agama. Awal-awal kuliah rasanya ingin mutasi saja melihat kebanyakan teman-temanku notabene berlatar belakang pesantren atau aliyah.
Tapi setelah bersabar menjalaninya,  disini di tempat inilah aku menemukan jati diri. sungguh rencana Allah sangatlah indah. Disini aku mulai mengenal jilbab syar’i dan mencoba mengistiqomahkan diri “Mendahulukan yang wajib dan mengutamakan yang sunnah”,disini aku belajar tidak hanya ilmu pendidikan dan sains kimia tapi aku belajar MKDU ( Mata Kuliah Dasar Umum) nya pun bahasa arab, ulumul hadits, ulumul qur’an, Ilmu fiqh, ilmu kalam/tauhid,Ilmu Tasawuf, Sejarah peradaban Islam dsb yang begitu aku menikmatinya karena kebetulan latar belakang pendidikanku itu SD, SMP, SMA Umum dan yang paling berharga adalah tuntutan S1 UIN harus hapal juz 30 “Ya terkadang suatu tuntutan atau keterpaksaan membuat kita membuat kebiasaan yang baik”. Dengan semua itu harapannya bahwa sarjana UIN punya nilai plus dikemudian hari tidak minder membandingan dengan Universitas lain, agak sedikit berat memang membawa nama Islam dalam ijazah ku, namun kuharap itu semua tidak hanya simbol tapi semoga dapat di implementasikan dalam kehidupan karena itulah yang terpenting.
Menjadi mahasiswa S1 aku sungguh terinspirasi dari perkataan mbak Oki Setiana Dewi “Aku tak mau menjadi mahasiswa Kupu-Kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) Kaya ilmu miskin pengalaman, juga  tak mau menjadi mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) kewajiban utama terbengkalai”. Ya aku ingin hidupku berkah untuk sesama dan seimbang untuk itu disini aku mengenal Organisasi HAMKA Himpunan yang pernah kuceritakan dulu yang membuatku lebih berkembang. Juga mengenal LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) yang bernama LDM ( Lembaga Dakwah Mahasiswa ) jujur saja organisasi ini membawa perubahan begitu besar dalam hidupku. Tentang sebuah prinsip hidup memperkenalkanku pada tarbiyah, tentang ukhuwah kita ukh. Sipat, Ukh. Yanti, Ukh. Uyun, Ukh. Ajeng,Ukhti  Sri,Ukh. Cici, Ukh. Nida , Ukh Weni,Ukh Tia, Ukh Trisna, Ukh. Teti, Ukh Fitri  LDM 2010 “Ukhibuki Fillah” yang selalu menguatkanku dalam keistiqomahan dalam lingkaran membina dan dibina itu, jika harus ku bercerita disini rasanya terlalu banyak yang sudah kulewati juga berjuang bersama rekan-rekan FSLDK Baraya membuat aku memiliki banyak saudara dari berbagai kampus. HAMKA dan LDK kedua organisasi itu yang membuatku banyak belajar tentang idealisme layaknya mahasiswa agent of change, agent of control  tentang tri dharma perguruan tinggi, tentang dinamika politik kampus yang mungkin belum tentu ku temukan ketika kelak ku jalani pendidikan di S2 ataupun S3 kelak .
Selama mengemban pendidikan di UIN tentu aku tidak sendiri. Aku dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan;  Pendidikan Kimia 2010 terutama kelas A  suka duka delapan semester kita bersama, rekan-rekan PPL SMAN 26 Bandung, Kelompok KKM 288  dusun Cibungur Sumedang. Tidak hentinya ku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok-sosok yang luar biasa seperti mereka.
Aku juga menemukan sahabat , sahabat yang senantiasa menamani perjuangan kala suka duka tentang kita tentang kebersamaan yang begitu indah. Mereka mampu menerimaku apa adanya. Esa Nur’anisa (doso) sosok saudara kembarku dengan banyak persamaan diantara kita, bisa dibilang we’re soulmate “Dimana ada esa, pasti ada devi”berjuang bersama, Hilda Nur’anida (Dodot), Dini Andriyanti (Nde), Dian Nurjanah (Ceudi ), Ade Winayah (kodew), Fitriyani Muthi (Marmut), Anisa Illahi (Cabel), Lia Nurliana (Buli), dan Feny Hadiyanti (Fenol) dan aku Devi Pratiwi  ( KOPI mereka memanggilku ) yang kita sebut  nama persahabatan ini dengan“CANTIQ” :D .Bersama mereka kutemukan ketulusan. Di Aljabar “Bescamp kita” tempat berbagi, belajar bersama. Ku pikir empat tahun kebersamaan kita lebih dari sekedar indah mengenal mereka adalah suatu kebahagiaan. Yang mungkin hari esok kita akan melewati fase yang baru. Ku harap rasa kekeluargaan dan silahturahim  harus tetap terjaga sampai nanti kita menikah, mempunyai anak hingga sampai tua pun memori ini akan selalu ada  yang mungkin akan menjadi kenangan dan bahan canda tawa tentang kekonyolan kita kala itu . J

Kala aku terpuruk dulu, ibu pernah berkata “ Dimanapun mutiara berada ia akan terlihat kilaunya sekalipun didalam lumpur”. Di UIN Fakultas MIPA perlu banyak perjuangan untuk mendapat IP lebih dari tiga. Aku sangat bersyukur hingga pada kelulusan aku mendapat predikat Cumlaude dengan IPK 3,59. Sungguh perjuangan yang tidak mudah.

Selain menjadi mahasiswa aku pun terpilih menjadi Ass-Lab ( Asistent Laboratorium ) banyak pengalaman yang dapat aku ambil selama 4 semester 2 semester di Kimia dasar dan 2 semester di kimia organik, karena tidak semua orang dapat kesempatan itu,beasiswa DIPA , selain itu aku juga menjadi bagian dari anggota ACE ( Association Chemistry Education ) sebuah komunitas pendidikan kimia yang menggali potensi ilmiah angkatan pertama, bersama ibu dosen bu Euis kami membentuk komunitas ini berharap dapat menghasilkan generasi pendidikan kimia yang unggul dan berprestasi membawa nama baik Pendidikan Kimia UIN Bandung.

Semua pencapaianku tentu tidak terlepas dari bimbingan dosen-dosen yang begitu sabar membimbing kami. Bu Dra. Cucu Zenab S, M.Pd bu Kaprodi yang selalu dekat dan bersahabat sudah seperti ibu kami di pendidikan kimia , Bu. Dr. Ida Farida, M,Pd ,Bu Dr. Hj. Yunita,M.Pd, Bu. Dr.Hj. Siti Suyaningsih, M.Pd , Bu Dra. Neneng Windayani, M.Pd, Bu. Risa Rahmawati, M.P.Kim, Bu Euis Nursa’adah, M.Pd , Bu Dra.  Ratih Pitasari, M.Pd, Bu Imelda Helsy, M.Pd, Bu .Sari, M.Pd , Pak  Dr. Ara Hidayat, M.Pd, ,Pak Dadang Muhamad, M,Si mereka adalah sosok yang luar biasa. Menginspirasi kelak akupun ingin seperti mereka. Aamiin ^_^

Terimakasih kuhaturkan sebanyak-banyak kepada bu Dr. Ida Farida,M.Pd sosok menginspirasi dengan banyak karya ilmiahnya yang senantiasa dengan sabar membimbing skripsiku, yang pada saat itu aku sering galau karna nekat pengambil penelitian “Kualitatif” ^_^ , bersama Bu Dra.Ratih Pitasari ,M.Pd  pembimbing kedua skripsiku ibu dosen dan guru teladan dimataku.  Bu Euis Nursya’adah,M.Pd adalah dosen favorite ku dosen  muda serba bisa yang gaul juga terbuka bersama ibu wawasan ku meluas. Teruslah menjadi sosok yang menginspirasi bu dosen pembaharu untuk civitas akadamik UIN yang lebih baik.
 Dan terimakasih ku ucapkan kepada dosen pembimbing akademiku dari semester awal hingga akhir bu Dr. Hj. Yunita, M.Pd beliau sosok yang menginspirasi  trainer nasional kimia, penulis buku, dalam keadaan yang sedang sakit beliau setia mengajari dan membimbing kami bu Yunita juga sering mengirimkan SMS “devi sudah sampai mana skripsinya? Semangat ya” ditengah kesibukannya ibu selalu mengingatku, ah bu tak tau kami harus membalas apa semoga kebaikan ibu senantiasa Allah balas dengan berjuta kebaikan. Semoga ibu selalu diberi kesehatan. Ibu Neneng Windayani, M.Pd sosok dosen akhwat yang gaul yang selalu menginspirasi ketika mengajar yang selalu mengaitkan ilmu kimia dengan kekuasaan Allah SWT. Mungkin ilmu dan kebaikan mereka tak bisa aku balas tapi aku senantiasa berdoa agar Allah memberi banyak kebaikan untuk para dosenku tercinta.
Terimakasih bunga, coklat dan hadiah-hadiahnya yang sudah menyempatkan hadir ke UIN  jauh-jauh Agmer, Dita, Amel, Raika, Anez, teman2 kosan, Adik2 tingkat LDM, HAMKA. Semoga sukses selalu.
Itulah sepenggal episode hidup ini, sebuah kebahagiaan yang tak bisa aku jelaskan. memasuki fase yang baru dalam hidupku, bukan tentang toga dikepala, selembar ijazah, gelar dibelakang nama tapi bagaimana setelah ini aku harus memulai penggalan episode yang baru dengan harapan semua ilmu yang kudapat bisa menjadi berkah untuk orang-orang disekitarku, menjadi jalan pengabdian untuk bangsa dan agama lewat profesiku. Perjuanganku tentu tidaklah sampai disini, ini bukan akhir kawan, tapi ini awal perjuangan baru yang tentu masih banyak impian dan harapan yang ingin ku capai entah akan menjadi guru, kepala sekolah, dosen atau menjadi ibu rumah tangga sekalipun bahwa memang benar wanita harus memiliki pendidikan yang tinggi karena ia madrasah pertama dari sebuah generasi, teladan bagi keluaga (anak-anaknya) kelak nanti. J

See You On the Top SUCCSESS !!!!
“Terus belajar dan perbaiki diri untuk Dunia Bahagia Akhirat Syurga” ^_^

14 September 2014
Devi Pratiwi Sudrajat, S.Pd.