LET's

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

[Tentang Malam dan Segala yang Kuharap Diam-Diam]


Kamu mungkin tidak tau betapa aku menyukai malam
Malam itu gelap namun menentramkan
Ada celah untuk memaafkan, 
Ada ruang untuk melupakan kealfaan siang
Disana terletak harapan menyambut pagi
dengan cerita yang baru


Kita yang tenggelam ditengah tumpukan rutinitas
Terlarut dalam kejamnya kesibukan
Bercampur  kerumitan tak jelas perasaan
Aku masih saja sempat menuliskan fatamorgana kerinduan
Tentang arti sebuah kesendirian saat kau tak ada
Tak tau harus ku kirim kemana bait syair-syair ini
Yang ku tau mendo'akanmu bukanlah suatu dosa

Kamu tau?
Selalu ada cara Tuhan untuk menguji hambaNya dengan persoalan
yang palin personal, tapi aku tetap diam menikmati segala proses pendewasaan
Tetap  disini dengan segala usaha dan harapan
Entah untuk meraih cita atau sekedar memanfaatkan kehidupan

Untuk itu
KepadaNya segala urusan kita kembalikan.
Karena langit adalah batasan segala impian
Kerena ridha Allah adalah pangkal muara ikhtiar dan do'a.


Semoga segala urusanmu urusanku Allah mudahkan, pada Malam waktu kita bertawakal dan siang sebagai jalan ikhtiarnya.


20-Februari-2016 (Dengan segala perbaikannya)
Devi Pratiwi Sudrajat

Lokasi Gambar : Oraya Tapa, Cimenyan Bandung

Jumat, 13 Mei 2016

Coretan Pendek dalam Kisah yang Panjang (I)


[Kalimat Utuh]


Pohon itu tidak bisu
ia bersaksi pada angin
bahwa kita pernah saling membahagiakan walau dalam keadaan tersesat

Genangan air itu kan mengering tapi tidak dengan kenangan setiap ingatannya ku potret dalam tulisan membentuk subjek dan predikat menjadikannya kalimat utuh namun sederhana diantara kita
Masih mau menapaki kembali jalan ini bersamaku?



-5 Mei 16-
DeviPs.








Lokasi Gambar : Taman Hutan Raya Ir. Juanda ( Dago Pakar )



==========================================================


[Waktu~Jarak]

Jika waktu ini adalah ujian iman,
maka izinkanlah kesabaran ini lebih luas dari waktu yang telah Engkau tetapkan

Jika jarak ini adalah ujian taqwa,
maka izinkanlah do'a yang terlantunkan menjadi perisai dimana pun ia berada.

Bandung, 27-Maret-2016
Devi Ps






======================================================= 


[Filosofi Jembatan]



Jembatan tercipta untuk menghubungkan dua ranah yang bersebrangan,

ada ketika kita tak bisa melewati tujuan hanya dengan satu lompatan kaki.

Ia berwujud suatu jalan yang menyatukan, butuh pondasi yang kuat bahkan di atas jurang pemisah yang begitu curam.
Jika boleh dianalogikan jembatan itu adalah Do'a,


menghubungkan yang tak bisa direngkuh, menyatukan yang terasa berbeda.






-Devi Ps


11-Oktober-2015






Lokasi Gambar : Ciwangun Indah Camp Lembang






Jumat, 25 Maret 2016

Sajak di Bulan Maret



Aku masih menjadi perempuan itu,
bahkan saat hari tanda kita mulai menua
Ditengah dua peralihan musim hujan dan kemarau
Ketika angin tetap tak berkabar, pesan tak lagi hilir mudik di saban malam
Ia terlalu malu, segan , disertai kesabaran yang menikam kuat
dalam kepasrahan kita pada takdirnya, dalam hening saling menjaga diri

Ketidakpastian ini terkadang mengerikan namun telah mengajari
keindahan tentang makna spasi diantara kita
Aku hanya bisa memeluk tabah, dan terkadang mulai lelah

Jika aku tidak lagi menjadi perempuan itu
Bukan aku putus harapan, bukan pula hati yang berubah
Hanya jiwa dan perasaan yang telah ku tangguhkan kepada yang Maha Segalanya
Ku titipkan agar Ia mau menyampaikan
Bahwa pernah ada perempuan yang selalu menunggumu pulang
Disaat dalam perantauan, pun saat kamu mulai melupakannya


Seperti yang ku katakan Tuhan itu maha baik telah mengirimkanmu untuk selalu ku rindui
Dalam bait sajak yang tak elok juga dalam rindu yang terpatri dalam do’a
Percayalah, semua ini akan selalu menjadi cerita diantara bulan kedua dan keempat



22- Maret- 2016

Devi Pratiwi Sudrajat

Kamis, 03 Desember 2015

Kabar Dari Lelaki Bisu

#Cerpen
Oleh : Devi Pratiwi S

Sore itu hujan gerimis mengguyur desa kami, saya tetap menyempatkan pergi ke balai pengobatan dengan Atikah putri tunggal saya, kebetulan ia sedang libur perkuliahan dan menyempatkan pulang ke desa. Pemandangan yang lain seperti biasanya. Balai pengobatan dokter Ardi sepi. Saya hanya menunggu antrian satu orang.
“Ibu Euis” panggil asisten dokter Ardi menandakan giliran pemeriksaan saya, Atikah memilih untuk menunggu di luar ia seorang gadis penyuka hujan gerimis.

“Assalamu’alaikum dokter” sapaku ketika melangkahkan kaki memasuki ruang pemeriksaan.
“Wa’alaikumussalam, ibu selamat sore. Bagaimana sudah membaik?” Jawab dokter Ardi yang selalu hangat menyapa setiap pasiennya.
“ Alhamdulillah dok, kemarin saya sudah melakukan cuci darah pertama. Semoga membaik ya dok, apa ginjal saya bisa kembali normal?”
“In syaa Allah bu, apabila Allah izinkan ibu sembuh kembali. Saya dan tim dokter hanya bisa membantu sesuai kemampuan yang kami miliki. Seperti yang terjadi pada bapak beliau sembuh karena izin Allah ya bu. Mari saya cek hasil pemerikaan lab terakhirnya ibu”

Dokter ini memang sangat sigap, ia membantu menyembuhkan suami saya yang tahun lalu harus melakukan operasi empedu. Kami sering bertemu selepas bapak sembuh, saya sering mengundangnya ke rumah. Ia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Mengingat saya hanya memiliki anak satu.

“Hasil lab.nya sudah saya periksa bu. Obat yang diberikan oleh saya dari RSUD dihabiskan. Nanti bulan depan mau tidak mau ibu harus cuci darah kembali. In syaa Allah semoga bisa sembuh. Jangan terlalu banyak meminum obat herbal yang kurang diyakini manfaatnya bu, karena ginjal ibu belum bisa menyaring dengan baik. Dikhawatirkan keadaannya makin memburuk, tekanan darah juga alhamdulillah sudah tidak tinggi lagi ya buk” sarannya

Pemeriksaan kesehatan hanya dilakukan sebentar, saya berbincang sedikit dengan dokter Ardi ada satu keheranan di dalam diri. Kenapa seorang anak muda yang sudah sukses seperti anak ini, belum menikah juga. Wajah tampan rupawan, karir seorang dokter yang mungkin sudah terbilang sukses dan tidak mudah di dapat. Ah rasanya terlalu malu kalau harus menjodohkan dengan Atikah yang kuliahnya tak kunjung selesai.

“Dokter, saya ingin menanyakan sesuatu boleh ? mungkin ini agak personal”
“boleh bu mangga tanyakan saja, panggil saya Ardi saja bu. Ibu Euis sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri. Mengingat di desa ini saya sebatang kara, kala saya rindu masakan ibu saya di desa saya sering datang ke rumah ibukan. Sekedar numpang mencicipi nasi liwet dan sambal buatan ibu ” jawabnya  ramah

 “ Usia nak ardi sekarang berapa? Sudah mapan, tampan, beriman apa tidak berniat menikah ? mungkin terlalu sibuk dalam pencapaian karir? Memang gak ada waktu buat urusan asmara ?” Tanya saya bertubi-tubi penasaran
“ ahahaha bu euis saya sampai bingung menjawab yang mana dulu” candanya sore itu
“ Yah saya nanya serius dok, lah cepat disegerakan! pernikahan itu ibadah nak ardi apalagi jika sudah mantap dengan calonnya di desa lebih baik lamar, nikahi. Nanti terlambat loh “
Dokter ardi hanya tersenyum, tersirat di matanya ada sesuatu hal yang belum melegakan hatinya.

“ Ibu mungkin bukan orang pertama yang menanyakan ini. Teman, sahabat, orang tua saya pun sering sekali menanyakan perihal ini terhadap saya. Malah ada salah satu keluarga saya mengira saya penyuka sesama jenis, karena tidak pernah melihat saya menjalin ikatan dengan perempuan apalagi membawanya ke rumah di desa. Usia saya mulai memasuki kepala tiga bu mungkin Allah belum mempertemukan saya dengan jodohnya”

“ Iya nak, ibu tau Allah belum pertemukan. Tapi jodoh itu memang takdir yang harus kita perjuangkan. Apalagi ibu dengar nak Ardi akan kembali ke kota untuk sekolah spesialis? Memang tidak ada dokter atau perempuan yang pernah menarik hati?”

“ ahaha seorang manusia jika belum pernah jatuh cinta itu mustahil bu sehebat dan sesibuk apapun orang itu, tokoh sukses sekelas bapak Soekarno, Bapak BJ Habibi saja pasti memiliki kisah cinta di dalam hidupnya. Bahkan orang sekejam Hittler saya yakin pernah mengalami roman picisan hanya saja mungkin alur dan takdirnya yang berbeda. Jika ibu tanyakan tentang saya, tentu pun saya pernah mengalaminya bu tapi mungkin kesalahan saya yang masih merasa bersalah tentang arti sebuah keterlambatan itu” bicaranya sedikit mulai perlahan dan seperti mulai menerawang sesuatu kejadian

Saya hampir bingung menanggapinya.

“ Mungkin ibu sudah saya anggap sebagai orang terdekat saya, ini yang bisa menggambarkan alasan saya mengapa belum memutuskan untuk menikah. Masih ada bayangan masalalu yang tidak pernah saya tahu kapan akan selesai, dan sore ini pada keadaan gerimis dan suara lantunan orang mengaji di mesjid itu mengingatkan saya kepada dia bu”

Dokter Ardi menyerahkan sebuah kotak kayu, yang ia ambil di lemari kerjanya. Kotak itu hanya berukuran kecil berisi: gantungan kunci, selembar foto berwarna sepia bergambarkan perempuan memakai seragam SMA yang mungkin tidak terlalu cantik, ia berjilbab rapi, bermata indah sedikit belo jika orang sunda menyebutnya, telihat sangat manis dengan senyuman yang membuat hati teduh  melihatnya. Selain itu ada selembar kertas yang sedikit usang.

Dokter Ardi meminta saya membacakan isi dari kertas itu :

Dari yang terlambat

Kubacakan kembali surat ini kepadamu, surat yang mungkin ditujukan untuk diriku sendiri kala kamu tidak pernah sempat membaca setiap baitnya. Dan dikala aku rindu dari seorang lelaki bisu.

Aruni
Kita sepasang merpati, dengan rindu yang tak pernah semusim
Yang terbang tak pernah beriringan
Sedangkan kenangan tak pernah luput dari ingatan

Aruni
Aku telah berkali-kali bertemu dengan perempuan tercantik
Tapi tak ada gadis yang senyaman dan semanis wujudmu dalam ingatan
Gadis yang ku temui di halaman surau bertahun-tahun yang lalu
Aku tau kau pernah  jatuh cinta bukan kepadaku
Aku tau kau telah merasakan pahitnya mencintai
Jika luka itu terus menggerogoti hati lembutmu
Bukalah lapang-lapang agar kelak aku leluasa mematikan sakitnya.

Aruni
Seperti yang kau tahu
Mata dunia mungkin menertawakan pemuda sepertiku
Pemuda yang tak pernah berani menjalin ikatan
Memilih sendiri dan menebar do’a
Semoga kamulah yang pertama dan terakhir mendampingiku
Aku acuhkan saja jika mungkin hari ini banyak yang mendekat juga
menanti dirimu
Karena Tuhan selalu mempunyai cara untuk menyatukan atau menjauhkan
Aku kau dan mereka

Aruni,
Hari itu aku memilih untuk pergi, bukan untuk meninggalkanmu
Bersama surat yang sejatinya mungkin kutulis untuk diriku sendiri
Sebagai tertanda pernah ada laki-laki pengecut di dunia
Tanpa pernah kuberi kesempatan kamu membaca di setiap baitnya
Mencoba menabahkan diri agar suatu saat jika aku datang kepadamu
Aku bisa lebih bernyali untuk membuat ikatan pasti diantara kita
Tanpa kupedulikan masalalumu

Dari sahabat setiamu
Ardhika

Hari ini tepat aku berdiri di surau itu, menggengam selembar surat yang sudah tak lagi berguna, disini kala pertama kali aku melihatmu tersenyum dengan memeluk sebuah Al-qur’an, jilbab terurai dan sebuah kaca mata menutupi indah matamu. Aruni namanya.

Dulu ketika aku masih senang bermain petasan dan ayahmu memarahiku kala petasan itu meledak tepat di depan halaman rumahmu. Kau hanya tersenyum di balik jendela.
Atau ketika hari raya tiba adalah hal yang paling aku tunggu, kapan lagi aku bersama keluargaku bisa bersilahturahmi kepada keluargamu, mencicipi kue wajit atau opor buatan ibumu. Pada saat itu kucuri foto gadis penghuni rumah yang hanya kutinggalkan bingkainya saja di meja ruang tamumu. Semoga Allah maafkan atas dosa  pada hari itu, kala aku mencuri untuk pertama dan terakhir.

Satu yang selalu ku ingat ketika kita sama-sama lulus SMA. Raut wajahmu nampak bingung, antara sedih juga bahagia. Kala itu kita sama-sama mendaftarkan diri mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di jurusan kedokteran sesuai yang kita cita-citakan. Aku yang sangat beruntung bisa lolos seleksi itu, padahal sedari SMP aku sering sekali mencontek PR kepadamu. Sementara Allah belum mengijinkan kamu lolos. Tapi kamu memilih sekolah di keperawatan. Katamu kala itu “ Dika yang jadi dokter, Runi jadi perawat saja nanti mengabdi di desa. Dokter banyak amalnya karena menolong kehidupan orang lain, perawat juga tidak kalah banyak amalnya karena selain memudahkan pekerjaan dokter dia juga menolong dengan merawat manusia yang sedang kesusahankan? Jadi  double di amalnya.” katamu menghibur diri sambil memberiku sebuah gantungan kunci “innallaha ma’ana” Allah bersama kita.    

Aruni mungkin ini salahku yang terlalu datang terlambat. Surat ini benar-benar belum sempat aku sampaikan padamu terutama perasaan yang terus menghujam disetiap langkah tugasku aku selalu ingat do’a terbaik selain dari ibu yang kamu berikan untukku, kamu menyempatkan datang selepas mengajarkan anak-anak itu mengaji di surau ini, hanya untuk melihat aku pergi dalam perantauan kita bertemu beberapa saat di atas jembatan gantung perbatasan desa saat terakhir kali aku melihat wajahmu. “Semoga Allah memberikan kemudahan disetiap tugas yang  dijalani, semoga Allah memberikan yang terbaik apapun itu” katamu kala itu.

Pernah aku membayangkan sebuah keterlambatan seperti saat ini:
Kau duduk berdua dalam sebuah pelaminan tersenyum bahagia dengan seorang pria yang terlebih dulu berani meminta pada ayahmu. Setidaknya jika hal itu terjadi aku masih bisa melihatmu bahagia menjalani sisa kehidupan dengan seseorang yang digariskan untukmu, meski bukan aku.

 Aku terlambat mengutarakan niat baik ini. Sulit sekali menjelaskan menjadi seorang laki-laki yang datang terlambat. Aku terlalu lama mempertimbangkan kekhawatiran, terlalu lama menghitung kecemasan dan terlalu banyak berasumsi atau bahkan cemburu terhadap orang-orang yang mendekatimu.

Tapi hari ini lebih buruk dari itu:
Aku termenung duduk di atas teras surau ini,  setelah selesai melaksanakan shalat atas kepergianmu yang mungkin lekukan mata indah itu tak pernah bisa kutemui lagi, keranda itu membawa tubuhmu dalam peristirahatan terakhir. Aku masih tidak percaya atas berita duka yang aku dengar malam tadi. Sebuah kecelakaan lalu lintas pada bis yang kamu tumpangi ketika kamu akan pergi bertugas kerumah sakit hari itu. Kita memang tidak pernah tahu, kapan maut akan menjemput.  Aku tidak pernah mengerti kenapa Allah selalu memanggil orang baik terlebih dahulu. Tapi aku yakin keshalihan atas dirimu akan membawa kebahagiaan yang hakiki di kehidupanmu yang baru. Allah terlalu sayang padamu Aruni. Meski harus secepat ini. 

Adakalanya cinta itu harus disimpan diam-diam tapi ada kalanya ia harus terungkap dan tidak tertunda-tunda jika memang semua terasa tepat. Kita akan merasakan suatu keterlambatan yang mendalam dan menyesali arti sebuah kebisuan jika harapan dan tujuan telah hilang. 


Ketika dalam perantauan dulu aku selalu memegang prinsip “ Yakinilah sesuatu yang telah ditakdirkan menjadi milik kita, Allah tidak akan membiarkannya menjadi milik orang lain” tapi aku lupa bahwa sepenuhnya kamu adalah milik Allah dan kapan saja Allah dapat mengambilnya.



Aruni, jika dunia ini tidak mengizinkan kita untuk bersatu semoga rencana Allah atas kita indah pada kehidupan setelahnya, menjadikannya indah milik Allah semata.
Tapi seandainya aku tidak terlambat, dan Allah tidak terlebih dulu memanggilmu. Apa kau masih mau menerima pemuda yang terlalu banyak pertimbangan sepertiku hingga sampai hati aku melewatkanmu ? .


Saya hanya menatap dokter Ardi sangat dalam, ternyata di dunia yang saya kira sudah kejam ini masih ada seorang pemuda yang pernah mencintai seorang wanita tulus dan dalam.

“ Semoga Aruni selalu di sisi Allah dan nak ardi bisa melanjutkan masa depan dengan seorang yang Allah pilihkan, itu do’a ibu “. 

“Aamiin”. Senyumnya penuh harap terlihat masih ada riwayat luka akan kehilangan dimatanya.




Minggu, 22 November 2015

Absurd (?)

Oleh : Devi Pratiwi Sudrajat

Kata orang perasaan itu banyak bentuknya
Ini mulai terjadi jauh sebelum matahari terbit hari ini
Kala pertama kali merasakan hal yang berbeda
Dalam ruang hati yang tidak bisa terdefinisikan

Rasanya, bagaikan jatuh hati pada benda abstrak
Tidak jelas bentuknya tapi tetap suka

Rasanya, bagaikan mencintai hal gaib
tidak pernah terlihat tapi tetap percaya

Rasanya, bagaikan mengharapkan sesuatu yang absurd
Tapi tetap dido’akan

Rasa-rasanya tak terhitung  datang dan menghilang
Tapi tetap termaafkan

Lalu, bagaimana bisa ?
Kita tumbuh bersama hingga rasa "nyaman" lebat berbunga
Bukankah itu lebih bahaya dari sekedar rasa yang ada?

Diamku diammu membuatnya selalu menjadi teka-teki
Ada satu karakter darimu yang tak pernah bisa aku fahami,
Ada satu jawaban yang sudah lama aku persiapkan
Sayangnya tak pernah kamu tanyakan

Kita, hanya bisa diam-diam menabuh harapan
Dalam keheningan, pura-pura tak merasakan

Mungkin semua tidaklah salah
Hanya waktu yang bermasalah
Dan selalu kupasrahkan saja kamu dalam do’a
Hingga takdir menghampiri akhir perjalanan "kita".


sepertiga malam terakhir,
22 November 2015

dalam ruang imajinasi.

Jumat, 06 November 2015

Perempuan Penanti Hujan

Oleh : Devi Pratiwi S

Aku hampir lupa kapan terakhir kita bertemu
Biasanya aku tertawa dan menangis dibawah pelukan derasmu
Agar mereka tak tahu bagaimana caraku menunjukan perasaan
Tapi berbulan-bulan aku menunggu
Kamu tak lagi datang

Aku rindu kala aku asyik berdo’a dibalik payung itu
Karna  katanya waktu mustajabnya do’a itu adalah ketika kamu datang.
Indah bukan?

Wahai hujan,
Meski sebagian orang khawatir atas hadirmu
Kala kamu mampu menenggelamkan sebuah desa

Tapi hari ini,
tanah yang ku pijak mulai kering
Sumber air tak mau lagi mengalir deras
Nyamuk berlari-lari di sekitar kelambu kamar
Pun suhu udara menyaingi matahari

Sepanjang waktu aku menunggumu datang
Ketika bulan sudah memasuki november
Aku berharap cemas saat petir mulai bergemuruh
Dan awan terlihat menggumpal kelam. 
Mungkin kamu akan datang ?

Ternyata mendung tak selamanya hujan
Langit hanya bisa menebar harapan, sedang aku
Hanya bisa menjadi perempuan penanti hujan
Dengan selalu percaya :
Atas izinNya  hujan akan kembali datang memeluku dan
menyirami kegersangan tempat ini
diwaktu yang tepat bukan?
Semoga :’)

Bandung, 
1 November 2015




 Sumber Gambar : https://kulihatkurasakudengar.wordpress.com/tag/payung/

Rabu, 21 Oktober 2015

Karya Mas Gun : Tidak Sekarang dan Menanti Tulisanmu

Entah kenapa suka sekali dengan karya-karya dari mas Kurniawan Gunadi. Beliau sosok yang menginspirasi dari mulai produktifnya Mas Gun membuat karya di blog (tumblr), pembuatan soundcloud- #Suaracerita sampai menulis dua buku yang begitu menguras hikmah di setiap ceritanya: Hujan Matahari dan Lautan Langit. 

Berikut dua dari banya karya  Mas Gun  yang paling saya  sukai :

Tidak Sekarang

Oleh : Kurniawan Gunadi


Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, 
aku lebih baik memilih diam.
Agar kau tidak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. 
Agar aku bisa menjadi temanmu. 
Agar kau tidak khawatir bersamaku.

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku memilih diam.
Bukan berarti aku takut. 
Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. 
Lebih baik aku bersabar terhadapmu.

Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku.
Biarlah semua menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu. 
Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama.
Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama.
Tanpa perlu merasa apa-apa. 
Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. 
Tidak perlu sungkan membalas pesanku hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu.
Biarlah semua aku simpan rapi.
Agar aku bisa menjadi temanmu saat ini. 
Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. 
Kita tetap bisa saling bercerita sepanjang kita mau tanpa kau merasa ragu. 
Kita tetap bisa bermain bersama dengan teman yang lain dalam satu meja,
tertawa bersama, tanpa rasa canggung.


Biarlah semua seperti ini.
Keadaan ini aku pertahankan bukan karena aku takut memulai. 
Aku justru takut merusak suasana di waktu yang tidak tepat. 
Tidak semua perasaan harus dikatakan saat itu juga bukan?
Aku akan menunggu. ^_^ 


=====================================================================


Menanti Tulisanmu

oleh : Kurniawan Gunadi

Aku selalu menanti tulisanmu
karena darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. 

Aku selalu menunggu tulisanmu, 
karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisan itu tidak sepernuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai, itupun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu
Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana  kemari tentangmu hari ini. Teruslah menulis karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang kamu tak tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.





sumber : kurniawangunadi.tumblr.com

Minggu, 27 September 2015

Yang Sederhana Saja


Oleh : Devi Pratiwi S

Yang sederhana saja
Karena hidup bukanlah mencari kesempurnaan
Tapi lebih dalam penerimaan

Yang sederhana saja
Cukup yang seiman dan satu tujuan
mampu membuat nyaman dan menenangkan
Karena rasa cinta akan tumbuh dari kenyamanan

Yang sederhana saja
Mengakui jika aku ada,
menjadikanku satu-satunya tempat untuk kembali pulang
Tidak hanya menerimaku yang banyak kekurangan
Tapi mampu menjadi agen perubah dalam kebaikan

Yang sederhana saja
Dia yang tidak menyerah dalam keadaan
Karena berat kita sama menanggung
Karena ringan kita sama melangkah
Sehidup sesurga

Yang sederhana saja
Yang selalu menyebutkanku di dalam do’anya
Setidaknya ia selalu mengingatMu sebelum mengingatku

Cukup yang sederhana saja Tuhan
Semoga do’aku ini tidak berlebihan.


12/Dzulhijah/1436 H

@Ruang penantian

Siluet by : Hilda Nur'anida

Rabu, 29 Juli 2015

Himpunan Syair UntukNya

Syair Musafir

Di antara ciptaanNya aku belajar menulis puisi
KarenaNya aku belajar bersyukur atas perjalanan ini.

Dia selalu berhasil membuatku jatuh hati
Pada ombak yang menerpa karang
Pada pasir putih yang tertiup angin
Dan pada perasaan yang tidak berubah.

Aku seorang musafir
Yang sedang dalam perjalanan penuh misteri
Melewati  deretan nyiur melambai indah atau
Badai besar menenggelamkan perahu nelayan.

Aku makhluk kecil yang tak suci
Tapi jika suatu saat Dia memanggilku dari kefanaan ini.
Aku ingin pulang ke taman surgawi
Taman yang keindahannya Dia ceritakan
Melalui kalam cintaNya melebihi perjalanan ini.

Sawarna, Banten
19 Juli 2015

Devi Pratiwi S


========================================================================

Iqro “ Bacalah “

Ya Rabb Maha Pengasih pelimpah kasih
Penyayang lagi pelimpah sayang

Basahilah bibir kami karena AyatMu
Sejukanlah pendengaran kami karena firmanMu
Getarkanlah hati kami untuk selalu
Mempelajari, mengajarkan serta mengamalkannya
Kita suci maha sempurna yang Engkau turunkan
Dengan sayap cahaya di langit Ramadhan

Semoga jiwa yang khilaf ini dituntun
Menuju kebenaran
Semoga raga yang kerdil ini disambut
Uluran kasih sayang

Ketika cinta makhluk tidak hakiki,
CintaMu senantiasa abadi.
Pedoman kami ketika kelak nanti
kehidupan berlanjut di alam sana.
Iqro “ Bacalah”

10 Ramadhan 1436 H
Devi Pratiwi S


Minggu, 26 Oktober 2014

Cinta Tanpa Definisi


Cinta Tanpa Definisi
-Anis Matta -
          
Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.


Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detail-detail nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.

Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detail-detail nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.

Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat, Dahsyat, Lembut, Tak terlihat. Penuh haru biru. Padatmakna. Sarat gairah. Dan, anagonis.

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisi: karena ~kemudian~ semua keajaiban terjawab disini.