LET's

Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Kebaikan dari masa lalu untuk masa depan

Tulisan ini saya awali dengan cerpen karya mas gun  yang saya kutip dari bukunya “ Lautan Langit “

Karya : Kurniawan Gunadi

“Ada dua jenis orang baik di dunia ini yang aku temukan sepanjang melakukan perjalanan,” ujarku pada temanku suatu sore.

“Bagaimana kamu bisa mengklasifikasikannya menjadi dua?” tanya temanku heran.

“Dengan menemukan mereka dan mengetahui potongan hidupnya”, jawabku.
Temanku mengernyitkan dahinya. 

“Orang baik jenis pertama adalah orang-orang yang sedari kecil terjaga, memiliki lingkungan tumbuh yang baik, memiliki orang tua yang baik, teman yang baik, hingga mereka hampir tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal buruk dengan kadar serius. Hanya kenakalan kecil yang masih wajar”

“Yang kedua?” tanyanya.

“Orang baik yang kedua adalah orang-orang yang dulunya bukan orang baik, tapi berubah menjadi orang baik. Orang jenis ini lebih banyak daripada jenis pertama. Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari kelam hidup sebelumnya,” tambahku.

“Aku mengerti, cerita orang pertama itu sebagaimana Rasululloh SAW. Ia terjaga bahkan sejak lahirnya. Orang kedua adalah seperti sahabat-sahabat nabi, mereka adalah orang-orang dengan masa lalu yang kelam, tapi berhasil keluar dari semua itu dan menjadi orang yang luar biasa baik,”

“Iya dan saat ini orang jenis kedua ini biasanya lebih bijaksana dalam menghadapi hidup karena mereka tahu dan pernah menjadi orang jahat”, aku melengkapi.

“Apakah kita termasuk orang baik jenis kedua?” tanyanya.

“Aku harap kita demikian. Aku menemukan di luar sana banyak orang ingin menjadi baik, tapi tidak tahu caranya. Ada yang ingin menjadi baik, tapi orang lain sibuk mencacinya dan menganggapnya cari muka. Mereka ingin mengubah dirinya, tapi lingkungan justru tidak mendukungnya. Mereka ingin mengubur masa lalunya yang kelam, tapi orang lain senang sekali menggalinya.”

Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Apakah kiranya ada orang yang bisa menerima kita dengan masa lalu sekelam ini?” tiba-tiba kawanku ini bertanya resah.

“Maksudmu?” aku ingin memperjelas pertanyaannya.

“Orang yang bisa menerima orang seperti kita menjadi pasangan hidupnya? Bahkan aku takut untuk memikirkan itu karena aku merasa tidak cukup pantas untuk itu”, tatapnya kosong.

Aku ikut menatap langit-langit dengan kosong.

“Entahlah, bila ia bisa menerima. Mungkin ia bukan manusia, mungkin malaikat”, jawabku.
Kami tenggelam dalam keresahan kami masing-masing.

Cerita Hikmah :
Devi Pratiwi S, 22 Ramadhan 1437 H
Pada sabtu malam sebulan yang lalu di pertengahan bulan shaban, saat itu saya sedang mengikuti kajian di sebuah mesjid yang biasa mengadakan kajian keputrian sabtu malam menuju ahad pagi sambil mabit, sebelum acara dimulai seperti biasanya ada tasmi’ al Qur’an biasanya, ada yang mengulang hafalan, lalu ada yang menyimak/mengikuti. Ketika akan hendak posisi untuk duduk, saya memperhatikan wanita yang sedang mengulang hapalannya tersebut suaranya sangat indah ia membawakan surat Al-Mujadallah. Wanita manis berlesung pipit,  berkulit sawo matang. Rasa-rasanya saya mengenalnya, saya beralih posisi duduk ke bagian tengah sekitar shaf ke tiga. Ya benar dia adalah kawan lama saya, hampir beberapa tahun kami tidak bertemu. Selepas ia mengalami “tragedi” dan pergi meninggalkan rumahnya. Kedua orangtuanya pun sepertinya sudah tidak tinggal di Bandung lagi.  Saya sulit menghubungi dia. Tidak pernah menyangka bahwa Allah akan mempertemukan kami di majelis ilmu ini. Dia jauh sangat berubah.

          Entah apa yang terjadi selama ini dalam perjalanan hidupnya. Setau saya dulu ia memiliki masa-masa yang sulit, putus sekolah, pergaulan bebas terlebih semenjak kedua orang tuanya bercerai. Kami mengobrol cukup lama setelah kajian selesai  sekitar pukul 21.00 . Saya tidak terlalu menyinggung bagaimana kehidupan dia di masalalu saya lebih suka bagaimana dengan keadaan dia sekarang. Saat ini ia sedang menjalani masa perkuliahannya di salah satu universitas di Bandung selepas ujian kesetaraan SMA. Yang lebih membuat saya tercengang, dia kini sudah menikah. Ia menikah dengan seorang pengusaha alat shalat di beberapa pusat perbelanjaan kota bandung walau usia suaminya terpaut  lebih muda ia mampu menerima segala masalalu teman saya ini. Bagaimana Allah membuat skenario yang berbagai macam alur cerita kepada setiap makhluk yang diciptakan? Betapa Allah selalu membukakan pintu rahmat kepada setiap orang yang mau bertaubat. Betapa ada manusia-manusia yang baik hatinya yang mau menerima dan merubahnya ke arah yang jauh lebih baik.


Bercermin dari kisah hidup kawan lama tadi betapa dulu sempat berpikir untuk tidak bergaul dengannya lagi, betapa dulu sempat saya bersuudzon tentang masa depannya. Disitulah saya semakin sadar boleh jadi orang yang berbuat buruk saat ini dimasa depan ia akan jauh lebih baik daripada diri kita saat ini.

Sebagai umat muslim kita pernah mendengar kisah beberapa sahabat Rosulullah SAW. Betapa bengisnya Umar ibn Khatab kepada Rasul dan umat islam namun pada akhirnya justru ia menjadi khalifah yang mati-matian membela agama Allah. Baik-buruk kehidupan kita di masalalu Allah yang berhak menilai dan memutuskan untuk mengampuni kita. Karena berkali-kali dalam Al-qur’an disebutkan bahwa Allah maha pengampun maha penyayang terhadap dosa hambanya yang bertaubat kecuali dosa syirik.

Bisa jadi kita memiliki masa lalu yang kelam. Yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa-masa itu,sebagaimana kita tidak ingin orang lain menilai kita dengan melihat masa lalu tersebut. Kita terlihat baik dan sempurna itu karena Allah yang selalu menutup aib-aib kita. Kewajiban kita pula untuk menutupi aib tersebut baik aib diri sendiri maupun orang lain, bukan malah menggalinya mencari kesalahan-kesalahannya.

Bagaimana ia berjuang untuk menjadi lebih baik demi masa depannya, kita mungkin tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dalam sulitnya proses berhijrah meninggalkan sesuatu yang salah itu mungkin tidaklah mudah, apalagi melupakan masa-masa kelamnya, berusaha bangkit untuk menjadi insan lebih baik bukan untuk citra di depan manusia tapi mengharap ridha dari Allah SWT.

Rasulullah bersabda, "Amalan-amalan itu tergantung akhirnya". (HR.Bukhari Muslim & Al-Baqarah132 dan lihat QS. An-Nisa 18)

Siapa yang tidak ingin memiliki kehidupan akhir yang baik “Husnul khatimah”waktu akhir kehidupan kita tidak ada yang mengetahui untuk itu semoga kita selalu menjadi insan yang memperbaiki diri saat ini dari kemaksiatan di masalalu demi masa depan yang lebih baik.

Saya bertanya padanya :  Bagaimana proses terberat dalam hijrahnya?

Ia menjawab : Allah,keluarga,suami juga orang lain mungkin bisa memaafkan dan menerima. Tapi yang terberat adalah memaafkan diri sendiri, kenyataannya jauh lebih sulit dari memaafkan kesalahan orang lain. Karena orang lain bisa saja pergi menjauh, sementara kesalahan diri tetap ada di dalam diri kita setiap hari ditemui.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang terjaga dirinya dari berbagai kemaksiatan sedari kecil, terdidik dengan ilmu agama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan, tapi bersyukur itu juga berlaku kepada orang-orang yang Allah beri kesempatan untuk membenahi dan memperbaiki diri atas kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu sebelum ajal menjemput keduanya in syaa Allah termasuk orang yang baik. Untuk itu semoga kita bukan termasuk orang yang sering menjudge seseorang, karena bisa jadi orang yang lebih buruk dari kira hari ini di masa depan ia akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tugas kita hanyalah saling menasehati dan mengajak dalam kebaikan.

hidayah itu bisa kapan saja datang kepada diri, namun mari tanyakan pada hati seberapa siapkah kita menjemput hidayah tersebut. Tanpa paksaan, tanpa bantahan. Ini semacam cambukan terhadap diri saya sendiri yang terkadang masih lalai, masih jauh dari keshalihan, masih seing riya bahkan mungkin takabur. Padahal mungkin malaikat maut bisa kapan saja datang menjemput tanpa bertanya kesiapan kita kembali padaNya tanpa peduli sudah berapa banyak bekal kita untuk dibawa pada kehidupan setelahnya.  Semoga Allah selalu memberi kesempatan dalam bertaubat mengistiqomahkan dalam kebaikan. Aamiin

Wallahu’alam bishawab

"Kamu jauh lebih berharga dari apa yang kamu pikirkan. Masa lalu tinggalkan di belakang, dan mulai fokus pada masa depan. Setiap manusia itu pendosa. Bukan berarti tidak memiliki masa depan yang mulia." – Anonim-



Rabu, 27 November 2013

Mencintai Saudarimu dengan Saling Menasehati


Oleh : Devi Pratiwi S

Sesungguhnya aku menasihati kamu bukan aku yang terbaik darimu, bukan juga yang paling soleh darimu, karena aku juga pernah lalai dan khilaf. jika kau anggap perkataan dan perbuatanku baik maka lakukanlah dan tolong  luruskanlah aku jika suatu saat nanti kau melihatku berbuat salah dan khilaf. Aku belum tentu lebih baik darimu, tapi aku ingin kau lebih baik dari diriku . Menasehatimu merupakan kewajibanku dan mendapat nasihat itulah adalah hakmu. Karena saling mendengar dan menasehati itulah bukti cintaku padamu wahai saudariku“
 

Itulah sepenggal paragraf yang membuatku ingin menulis tentang sebuah nasihat, karena nasihat merupakan suatu kebutuhan kita sebagai manusia yang sedang mengalami proses kehidupan menjadi khalifah dimuka bumi ini. Allah pun telah berfirman bahwa :

“illal laziina aamanuu wa’amilus saalihaati wa tawaasau bil-haqqi wa tawaasau bissabr”

Artinya : kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran” ( Q.S Al-Asr : 3 )
Begitulah bunyi surat Al-asr suatu surat sudah tidak asing lagi kita dengar, suatu surat yang didalamnya terkandung makna yang mendalam. Menggambarkan bagaimana pentingnya waktu dan orang-orang yang merugi kecuali yang beriman dan orang yang saling menasehati dalam kebenaran  ( untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah ) serta saling menasehati dalam kesabaran ( saling menasehati untuk bersabar dalam menghadapi luasnya arus kehidupan baik dalam musibah ataupun ujian) . 

Agar terciptanya kehidupan yang harmonis serta membangun kehidupan yang madani terdapat beberapa aspek penting yakni salah satunya saling menasehati dalam menegakan amar ma’ruf dan nahii munkar terlebih di dalam tarbiyah yang mungkin kita bisa merasakan sendiri bagaimana dahsyatnya ukhuwah itu dalam proses perbaikan diri. 

Amar makruf nahi munkar tidak akan berjalan secara baik jika didalamnya tidak terdapat Khairiyyyatul haadzihil ummah ( kebaikan umat ) dan hal tersebut dapat tercapai dengan adanya ishlah ( perbaikan ). Namun seorang yang telah mengerti akan agama tidak cukup untuk menjadi shalih saja tapi ia juga harus menjadi seorang mushlih (menshalihkan orang lain). 

Pada saat ini, mungkin akan menjadi sangat berat untuk menegakan amar makruf apalagi nahi munkar. Karena pasti di dalam benak manusia akan merasa bahwa diri belum baik dan tidak pantas menasehati saudaranya. Pemikiran tersebut tidaklah salah karena manusia tidak akan pernah sempurna tidak akan selalu benar. 

Namun yang perlu kita ingat apabila seandainya seorang khalifah yg menegakkan AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR mengatakan dirinya tidak layak, siapakah yang mencegah kemungkaran bumi ini? Seandainya seseorang hanya dapat menyampaikan dakwah apabila dia sempurna, maka tidak akan ada pendakwah dan sedikitlah orang yg saling menasehati.  Menjadi seorang yang baik dan shaleh itu memanglah tidak mudah kita sebagai manusia sama terkadang lemah dan bermalas-malasan dalam ibadah dan setan akan selalu menyerang kita dari berbagai arah dari hal terkecil hingga oleh karena itu “saling menasehati” adalah pilar utama untuk mencapai keistiqomahan . 

Diantara hak seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bila dimintai nasihat oleh saudaranya tentang sesuatu maka ia harus memberinya, dalam artian ia harus menjelaskan kepada saudaranya mana yang baik dan mana yang salah tentu saja tidak hanya sekedar memberi nasihat tapi ia pun dapat menjalankannya. Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Bila salah seorang dari kamu meminta nasihat kepada saudaranya maka hendaknya ( yang diminta nasihat ) memberi nasihat” (H.R Bukhari ) 

Saling menasehati diantara kaum muslimin meruapakan kewajiban . Karena bangkit dengan kebenaran akan sulit jika disekitarnya banyak hambatan yang terus menggerogoti .
Terakhir mengutip dari buku Salim A. Fillah “dikutip dari Jalan Cinta Para Pejuang”

Aku tersenyum dan berkata
Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
Sungguh di dunia ini tak ada lagi
Orang yang layak memberi nasihat
Memang merupakan kesalahan
Jika kita terus saja saling menasehati
Tapi dalam diri tak ada hasrat untuk berbenah
Dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari
Tapi adalah kesalahan juga
Jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati
Hanya karena kita berselimut baik sangka kepada saudara
Dan adalah kesalahan terbesar
Jika kita enggan saling menasehati
Hanya agar kita sendiri tetap
Merasa nyaman berkawan kesalahan
Subhanallah, di jalan cinta para pejuang
Nasehat adalah ketulusan
Kawan sejati bagi nurani
Menjaga cinta dalam ridhaNya
Wallahu’alam bish Shawab
Semoga bermanfaat.


Sabtu, 11 Mei 2013

Teks MSQ : “Karena Dakwah adalah Cinta dan Kewajiban Setiap Muslim ”.


Musabaqah syarhil qur’an ( MSQ ) merupakan salah satu cabang MTQ yang sangat unik. Dilihat dari segi penampilan, cabang ini tergabung di dalam grup yang terdiri dari 3 orang yakni
1.      pensyarah yang menjelaskan isi al qur’an baik secara teks maupun konteks dengan model retorik
2.       penterjemah yang menerjemahkan ayat yang dikaji di dalam syarahan dengan bahasa yang puitis
3.      seorang pembaca ayat dengan model tilawah dan lagam tertentu. 


Berikut contoh teks MSQ :

Assalamu’alaikum Wr.Wb,
اَلْحَمْدُاللهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. وَبِهِيْنَ الشْتَعِيْنُ عَلَٓ عُمُرِدُّنْيَوَدِّيْنَ. وَالصَّلٰتُ وَالسَّلٰمُ اَلآ اَ لشْرَفِلْ اَمْبٰيٰإِ وَالْمُرْسَلِيْنَ. شَيْدِنَ مُحَمَّدٍ وَعَلٰاَلِهِ وَاَشْحَبِهِ اَجْمَعِيْنَ. عَمَّبَعْدُ. قَلَ اللّٰهُ تَعَلَ فِالْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ. اَعُضُبِ اللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَٓنِ الرَّ جِيْمِ.
 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dewan juri yang kami hormati! para peserta Musabaqah Syarhil Qur’an yang berbahagia, serta hadirin wal hadirat yang dimuliakan oleh Allah.
            Yang pertama dan yang paling utama. Tiada pujian yang pantas kita panjatkan selain pada Allah SWT yang telah menggerak getarkan hati, jiwa dan raga, sehingga pada kesempatan kali ini kita dapat berkumpul di majelis yang insyaAllah penuh berkah ini.
            Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan kita Habibana wa Nabiyana Baginda Rasullullah Muhammad SAW , beserta keluargadan sahabatnya,para tabiin dan tabiatnya  dan insyaallah sampai kita selaku umatnya. Amiin.
          Pada Kesempatan kali ini perkenankanlah kami menyampaikan syarahan dengan judul
“Karena Dakwah adalah Cinta dan Kewajiban Setiap Muslim ”.
Ya Ma'ashirol Muslimin Rohimakumullah……
Apa yang tersirat ketika mendengar kata dakwah ?
Dakwah itu tugasnya para ustadz dan kiyai, tugasnya para da’i, hanya untuk para aktivis dakwah atau para santri ? benar seperti itu ?
Untuk itu mari kita luruskan paradigma tersebut bahwa Dakwah itu merupakan kewajiban kita selaku umat muslim . Sebelum kami memaparkan lebih jauh mengenai bagaimana urgensi dakwah dalam kehidupan , mari sama-sama kita dengarkan bersama lantunan ayat suci Al-Qur an Surat Al-Imron ayat 104 yang akan dibacakan oleh Qori'ah kami sebagai berikut :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)

Dalam ayat tersebut jelas bahwa,berdakwah berarti kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang lain untuk beriman dan taat kepada Allah SWT, sesuai dengan garis akidah, syariat dan akhlak Islam mencegah dari kemungkaran. Dan siapa orang yang beruntung itu ? yakni kita selaku umat muslim. Di sini tampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bukan hanya tugas para da’i, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah . 
Jangan jadikan dakwah itu terasa berat, karena dakwah adalah cinta . saling mencintai antara sesama muslim menginginkan yang terbaik dan mengajak orang yang dicintai agar bisa sama-sama untuk merasakan surga Illahi Rabbi. 
Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah paham. Paham akan apa hakikat jalan ini bahwa inilah jalan para Anbiya. Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah satu bentuk amal berbalut keikhlasan. Imannya pun hidup dan menyala. Amalnya mengalir tiap waktu. Karena dakwah adalah cinta yang diberikan kepada Rabb nya. Ia lah pemegang teguh bahwa “Allahu Ghaayatuna, Allah tujuan kami”.
Namun haruslah kita ingat bahwa dakwah itu tidak mudah, sebelum kita mengingatkan kepada oranglain hendaknya benahi dulu diri kita sendiri  karena mengutip dari buku Risalah Dakwah Kampus bahwa prinsip dakwah itu “ melayani sebelum mendakwahi, memberi teladan sebelum mengajak, mengembirakan bukan menakuti, mempermudah bukan mempersulit, serta memberi solusi bukan menghakimi .
Seorang muslim sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Lantas mengapa pada saat ini umat muslim seakan malu dan takut berdakwah ? 
Ya Ma'ashirol Muslimin Rohimakumullah……
Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an surat Al- Qashash ayat 87 :
Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ( Al-Qashash : 87 )
Inilah, seruan Allah agar kita tidak takut untuk beramar makruf nahi munkar, agar tidak ada satu pun di dunia ini yang menghalangi kita untuk menyampaikan risalah yang sudah Allah sampaikan kepada Rosul hingga sampai kepada selaku umatnya.
Berdakwah itu tidak selalu berada dalam mimbar saja, kita ingat kisah teladan Rasulullah  SAW bawah Rosul pun berdakwah tidak langsung secara terang-terangan tapi beliau dengan cerdasnya membentuk halaqoh-halaqoh kecil mengajak orang-orang yang dicintai keluarganya dan sahabatnya agar sama-sama berada di jalan kebenaran. Lalu tidak sampai disitu Rosulullah tidak pernah takut oleh apapun, ketika beliau sedang berjalan ia dicaci dan  dilemparinya kotoran-kotoran hewan oleh kafir quraisy. Tapi apa yang Rosul lakukan? ia hanya tersenyum membalasnya. Sampai suatu ketika salah seorang kafir quraisy itu terjatuh sakit. Lalu siapa orang yang pertama kali menjenguknya ? yakni Rosulullah SAW hingga sampai kafir tersebut masuk kedalam agama islam. Subhanallah begitu cerdasnya  Rosulullah menyampaikan dakwahnya, tidak hanya sebatas lisan namun dengan perbuatan.
Karena itu, tidak perlu jadi ulama terlebih dulu baru berdakwah! Tapi mulailah perbaiki dari diri sendiri, mulai pada saat ini lalu sampaikanlah kebaikan itu kepada oranglain. Dengan demikian umat Islam akan kembali berjaya dan terpelihara daripada perpecahan serta infiltrasi pihak manapun. Menganjurkan berbuat kebaikan saja tidaklah cukup tetapi harus dengan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Siapa saja yang ingin mencapai kejayaan. Maka ia terlebih dahulu harus mengetahui taktik perjuangan untuk mencapainya, karena kejayaan tidak akan tercapai melainkan dengan kekuatan, dan kekuatan tidak akan terwujud melainkan dengan persatuan. Persatuan yang kokoh dan kuat tidak akan tercapai kecuali dengan sifat-sifat keutamaan. Tidak terpelihara keutamaan itu melainkan dengan terpeliharanya agama dan akhirnya tidak mungkin agama terpelihara melainkan dengan adanya DAKWAH!!!!

Sebelum menutup syarahan ini  izinkan saya mengutip ungkapan mutiara dari seorang mujahid dakwah Hasan Al-bana :
Dakwah itu adalah nafas kehidupan maka tarbiyah adalah sendi perjuangannya
Dakwah itu adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari diri kita : pikiran kita, perhatian kita, berjalan kita, duduk kita dan tidur 
Sekian yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf apabila selama kami menyampaikan uraian di atas banyak kekurangan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.
Wassalamu’alaikumWr.Wb

Teks Musabaqoh Syarhil Qur’an Juara I Pekan Raya Pendidikan Kimia 2013
Oleh :
Devi Pratiwi S ( Da’iah/ Pensyarah )
Gina Resyatania ( Qori’ah/Pembaca Qur’an )
Hilmy Luthfiyah ( Sari Tilawah/Penerjemah )


Source :  Dari berbagai sumber


Note :
Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menjadi pemenang, namun hati tulus menyampaikan risalah serta menunaikan amanah dari teman-teman agar bisa memberikan yang terbaik. Sungguh pengalaman MSQ pertama yang luar biasa.  Prestasi ini takan berarti tanpa adanya do’a dan dukungan dari mereka. Untuk mu “ Pendidikan Kimia Semester 6A 2010 “






Minggu, 31 Maret 2013

Menjaga Hati


10 Penyakit Hati dan 5 Obat Hati 

Oleh : Devi Pratiwi S


Bismillahirahmanirahim
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)

Dari ayat di atas, bisa kita lihat ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil salah satunya yakni tentang keharusan kita dalam bersyukur telah diberi pendengaran pengliatan serta yang utama hati nurani oleh ALLAH SWT, karena selain akal untuk berpikir hati nuranilah yang membedakan kita dengan makhluk Allah lainnNya.
 
Hati atau sering kita sebut sebagai qolbu adalah bagian terpenting dari diri manusia, karena hati merupakan bagian dari diri yang sangat sensitif sekali terhadap suatu keadaan. Keimanan dan karakter kita pun dapat ditentukan oleh dari isi hati yang ada dalam diri kita. Karena disadari atau pun tidak keadaan hati sangat mempengaruhi  aktivitas dan hasil yang kita capai, bila hati bersih dan pikiran tenang segala aktivitas pun akan terasa ringan.
Percayakah bahwa keadaan hati kita dapat menghalangi do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT .

Berikut dikisahkan bahwa suatu hari Ibrahim ibn Adham ( seorang yang hidup di masa tabi’in ) melintas di pasar Bashrah, lalu orang-orang berkumpul mengerumuninya seraya berkata :
  Wahai Abu Ishaq, apa sebab kami selalu berdo’a namun tak pernah dikabulkan ?”

Ia menjawab : “ Karena hati kalian telah mati oleh 10 hal “

1)      Kalian Mengenal ALLAH SWT tetapi tak menunaikan hak-Nya
2)      Kalian mengaku cinta Rosul tetapi tak menunaikan sunnahnya
3)      Kalian membaca Al-Qur'an tapi tak mengamalkannya
4)     Kalian memakan nikmat ALLAH SWT tapi tak pernah pandai bersyukur
5)      Kalian mengatakan setan adalah musuh, tapi senang mendengarkan dan mengikuti bisikannya
6)  Kalian katakan bahwa syurga itu adalah haq ( benar adanya ) tetapi tak pernah beramal untuk menggapainya
7)    Kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq ( benar adanya ) tetapi tak mau lari darinya
8)   Kalian katakan bahwa kematian adalah haq ( benar adanya ) tapi tak pernah menyiapkan diri untuknya
9)  Kalian terbangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tapi lupa dengan aib sendiri
10)  Kalian kubur orang yang meninggal dunia di kalangan kalian, tapi tak pernah mengambil pelajaran dari mereka
( Sumber : Mi’ah Qishshah wa Qishah Fii Aniis ash-shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin, Muhammad Amin al-Jundi, Juz II hal 94 )

Berikut beberapa hal yang dapat mematikan hati, semogalah kita bukan termasuk kedalam orang-orang yang Allah matikan hatika sehingga dapat mengahalangi usaha dan do’a yang kita panjatakan untuk ALLAH SWT.

Sebagai orang yang beriman hendaknya kita selalu berusaha menjaga hati agar terhindar dari penyakit hati tersebut. Karena Allah pun sangat membenci orang-orang yang memilki penyakit hati 

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” ( Al Baqarah 10)

Lantas bagaimana membersihkan dan mengobati hati tersebut?

Gambar Ilustrasi