LET's

Sabtu, 10 Oktober 2015

Di Tanah Kelahiranku : Ada Asing di Setiap Dinding

" Tanah ku yang ku cintai engkau ku hargai"  - Ibu Sud dalam Tanah Airku


Tanahku Indonesia,  negeri yang kaya dan subur dalam benaku. Bagaimana tidak daratannya luas membentang, lautannya lapang menantang. Hingga terkadang ku urungkan niat untuk pergi mengelilinginya hingga pelosok sana, saking luasnya tanah airku.

Kata orang negeri ini salah satu negeri terbesar di dunia dengan penduduk yang cukup padat, kata sejarah negeri ini di berdiri atas hasil keringat rakyat yang berjuang dan para serdadu dengan rela menumpahkan darahnya untuk kemerdekaan bangsa. Tapi, aku termenung ketika mendengar amanat Bapak Soekarno bahwa perjuangan akan terasa berat jika kita bukan melawan penjajah asing, tapi melawan bangsa sendiri. Dan ini terjadi.

Ketika menulis ini mungkin usiaku belum cukup matang aku seorang perempuan yang baru berusia kepala dua, tak layak jika harus berkomentar banyak karena pengalaman hidup di tanah ini pun masihlah minim. Tapi tak ada salahnya bukan aku menyampaikan sedikit perasaanku pada bangsa ini ?

Ditengah sejuta kebanggaanku pada tanah ini, ada rasa prihatin yang begitu mendalam. Entah harus dimulai dari mana untuk mengubah rasa prihatin itu? kita yang terlanjur terbiasa atas dasar kemakluman hidup sebagaimana  memaklumi langit yang kadang cerah dan terkadang mendung, adakalanya saat kita jaya atau kadang terhina. Semuanya terasa lumrah karena berbagai generasi terlalu terbuai dengan kenikmatan dunia yang fana, segala fasilitas terpenuhi.

Tapi kita harus memulai darimana, ketika kebohongan disampaikan secara berulang dan kita masih saja percaya? ketika sekelompok guru yang mengabdi sepenuh hati untuk mendidik para generasi muda dibayar dengan recehan? ketika para murid terbebani dengan bergonta-gantinya sistem pendidikan yang ada, fasilitas tidak merata sementara anggaran luar biasa besarnya.   

 Rakyat kecil sepertikupun sebenarnya tak mau menyalahkan para penguasa, hanya saja apa yang sedang dilakukan mereka? mereka yang berdiri di atas ratapan rakyat, terlanjur nyaman dan lupa hingga khilaf apa saja yang harus mereka bela dan perjuangkan? kemajuan ekonomi yang dibangga-banggakan hanya hitungan jari dirasakan oleh sekelompok golongan. Faktanya, sekolompok rakyat masih saja kelaparan dengan penghasilan pas-pasan, sekelompok anak sulit mencari lahan permainan meratapi mall dan apartemen yang dibangun semena-mena. Air bersih pun harus ditukar dengan senilai rupiah sambil menikmati banjir kiriman layaknya kolam renang. Asap yang tak kunjung reda oleh oknum yang tidak bertanggung jawab jangankan mencari ilmu dan sesuap nasi bagi sekelompok orang bernafas dengan udara bersih saja sudah wujud tasa syukur terbesar.

Keberadaan produk asing sudah melekat dengan dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya aku pun menjadi korban. Aku meminum dua botol air mineral setiap hari yang 74% sahamnya milik asing, peralatan keseharianku, motor, hingga berkomunikasi semua sahamnya milik bangsa asing. Dan yang paling mengkhawatirkan masyarakat kita lebih menghargai produk asing karena produk lokal dinilai kurang berkualitas. Dan aku kian sadar bahwa kini kita sedang dijajah tanpa disadari.

Untuk siapa niat baik yang sulit terealisasi di dalam setiap pidato kenegaraan itu? untuk siapa kebijakan ini itu disusun? apakah negeri ini hanya milik para pemodal asing? apakah tanah kelahiranku ini milik para penjilat asing yang kemudian tanpa disadari merampok berbagai kekayaan alam yang ada? apa tanah airku ini milik para oknum perusak lingkungan ?.

Konon koruptor yang ditangkap komisi itu dulunya juga mahasiswa bahkan tak sedikit mantan aktivis yang meneriakan kebenaran dalam ajang demonstrasi. Lantas apa gunanya pendidikan tinggi yang mereka punya? Entah benar mereka bersalah atau entah karena konspirasi suatu fitnah yang sangat keji. Biar Tuhan saja yang terlibat di pengadilan akhirat nanti.

Sungguh aku merasa bingung harus kutujukan kepada siapa semua pertanyaan itu. Sungguh aku terlalu resah harus mulai darimana memperbaikinya selain dari diri sendiri dan saat ini. Tapi bersyukurlah atas keresehanku ini, sebab katanya keresahan adalah bibit perubahan. Ia akan tumbuh disiram dengan optimisme dan dipupuk dengan pengorbanan. Karena pada akhirnya hidup adalah pilihan berjalan atas kebenaran atau pembenaran.

Siapapun kamu yang membaca tulisan ini, apapun profesimu lakukanlah yang terbaik untuk bangsa dan agamamu. Agar saat kelak hidupmu kembali pada Rabb-mu kita akan berbangga bahwa kita selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk tanah kelahiran kita INDONESIA. Bila kamu merasa sekililingmu gelap dan tak tentu arah. Tidakkah kamu curiga bahwa Tuhan mungkin saja menitipkan cahaya kebangkitan bangsa itu melalui tindakanmu atas dasar nurani yang kamu miliki?.

Bandung, 10 – Oktober - 2015
Oleh : Devi Pratiwi Sudrajat, S.Pd


Minggu, 27 September 2015

Yang Sederhana Saja


Oleh : Devi Pratiwi S

Yang sederhana saja
Karena hidup bukanlah mencari kesempurnaan
Tapi lebih dalam penerimaan

Yang sederhana saja
Cukup yang seiman dan satu tujuan
mampu membuat nyaman dan menenangkan
Karena rasa cinta akan tumbuh dari kenyamanan

Yang sederhana saja
Mengakui jika aku ada,
menjadikanku satu-satunya tempat untuk kembali pulang
Tidak hanya menerimaku yang banyak kekurangan
Tapi mampu menjadi agen perubah dalam kebaikan

Yang sederhana saja
Dia yang tidak menyerah dalam keadaan
Karena berat kita sama menanggung
Karena ringan kita sama melangkah
Sehidup sesurga

Yang sederhana saja
Yang selalu menyebutkanku di dalam do’anya
Setidaknya ia selalu mengingatMu sebelum mengingatku

Cukup yang sederhana saja Tuhan
Semoga do’aku ini tidak berlebihan.


12/Dzulhijah/1436 H

@Ruang penantian

Siluet by : Hilda Nur'anida

Sabtu, 12 September 2015

Quantum Ikhlas



“Allah ingin kita selalu belajar, belajar mencintai yang sewaktu-waktu pergi, menyayangi yang sewaktu-waktu hilang atau merindui yang sewaktu-waktu mati. Disana kita banyak belajar menyikapi kesendirian bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi” – Devi Pratiwi –

Pada hakikatnya kita bertemu untuk berpisah.

      Keterpisahan kata Rumi hanya tipu daya waktu. Karena setiap awal memiliki akhir, setiap pertemuan diringi perpisahan, setiap jiwa yang hidup pasti akan mati. 
Sungguh rumit jika kita memikirkan dan mempertanyakan recana Allah atas pertemuan kita. Bila pertemuan ini mengandung rahasia. Rahasia apa yang hendak Allah rencanakan ?
      Allah memberikan kita banyak ujian, menyampaikan pesan dan hikmah agar kita bisa selalu belajar. Ujian itu mungkin berupa sebuah pertemuan dan perpisahan.  Ujian itu mungkin berupa rasa kecintaan kita terhadap makhluk, terhadap dunia, terlalu ingin memiliki namun lupa yang ingin kita miliki sebenarnya suatu saat tanpa terduga dapat diambil dengan begitu mudahnya oleh sang Maha Memiliki.
        Selalu banyak cara Allah untuk mempertemukan dan memisahkan kita entah takdir antara seorang anak dan orang tua, suami dan istri, persahabatan, rekan kerja atau sepasang kekasih. Hanya tinggal persoal waktu seberapa lama kita memiliki jatah untuk bersama.

Pertemuan itu diiringi kebahagiaan dan kepergiaan itu diiringi keikhlasan

Engkau pernah melihat isak tangis haru orangtua  ketika pertama kali berjumpa dengan buah hatinya. Harapan tumbuh subur terhadap sang anak agar kelak menjadi insan yang paripurna. Atau engkau pernah melihat dua sejoli yang sedang jatuh cinta? pertemuan adalah hal yang paling membahagiakan dengan harapan “kelanggengan” selalu menyertai mereka. Indah karena pada hakikatnya sebuah pertemuan selalu diiringi dengan kebahagiaan.
 Hal itu tentu bertolak belakang dengan sebuah perpisahan. Isak tangis sang anak  ketika di batu nisan orangtuanya berharap sepenuh hati agar do’anya Allah dengar untuk kebaikan kedua orangtuanya. Pun dengan sejoli yang terlalu berharap banyak, perpisahan menjadi momentum saling membenci, memutuskan ikatan silahturahmi tapi ada juga yang menerimanya dengan penuh kesabaran serta penerimaan. Walau getir, itulah yang disebut dengan kedewasaan. Karena pada hakikatnya perpisahan selalu diiringi kesedihan salah satu penawarnya dengan keikhlasan yang membutuhkan proses.

Ketika engkau memutuskan untuk berpisah

         Pernahkan engkau merasa dalam persimpangan jalan?  mungkin terlalu bingung mana yang jalan yang harus kita lalui mempertahankan meski engkau tau begitu rumit atau melepaskan meski terasa masih indah. Beban ini tidak hanya pernah terjadi padamu, tapi padaku juga.
Tapi baru kali ini aku merasakan kelegaan tentang arti sebuah perpisahan. Meski sulit, meski sakit hal itu sedikit melegakan. Karena aku tau perpisahan ini untuk kebaikan, berpisah dengan kesadaran dan kedewasaan. Jalan untuk merelakan sesuatu yang amat dicintai adalah jalan kerelaan untuk untuk yang dicinta. Bukan untuk menyerah tapi kumaknai sebagai kesiapan untu menerima apapun yang kelak akan digariskan Allah.
      Disaat pertemuan dulu banyak harapan yang kita gantungkan, namun lagi-lagi hidup tak sepenuhnya berjalan sesuai rel rencana manusia. Disepanjang jalan itu ekspektasi tidak selalu berbanding dengan realita. Ada hal-hal yang mungkin harus diprioritaskan dan dikorbankan. Seandainya, disini aku bertindak sebagai korban dan bukan prioritas tidak dipungkiri aku merasa sangat kecewa karena mungkin harapan yang pernah aku tanam harus terkubur demi kebaikan bersama, katanya. Namun lagi-lagi aku harus merelakan sesuatu yang benar-benar belum menjadi milikiku. Aku harus sadar diri, bahwa perpisahan adalah jalan terbaik untuk saat ini. Entah kedepannya Allah mempersiapkan rencana apa lagi. Kesabaran adalah hal yang terbaik untuk dipertahankan. Tidak perlu memaksakan waktu untuk bersama jika memang belum sampai.  Aku hanya tak ingin menjadi beban untuk hidup seseorang saat ini. Pertemuan itu telah banyak membuat aku belajar tentang cinta, persahabatan, persaudaraan juga perjuangan.

Bab yang paling sulit adalah ilmu ikhlas

       Tidak mudah untuk melepas seseorang yang mungkin kita kasihi, sudah lama juga kita menaruh hati atau menyimpan banyak harapan, kenangan dalam perjalanan hidup. Kita merasa gejolak jiwa selalu menuntut untuk bisa selalu bersama. Baik itu untuk keluarga, sahabat, atau orang-orang yang kita cintai.  Tetapi aku kian sadar bahwa ketaatan butuh pengorbanan. Bukankah Allah pernah berjanji bahwa apabila kita meninggalkan sesuatu karena Allah maka Ia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Pun harapanku begitu, melepaskan merelakan kepergian seseorang karenaNya semoga menjadi tidak sia-sia, tidak ada penyesalan. Kita bertemu secara baik-baik pun ketika kita berpisah aku ingin kita selalu dalam keadaan baik. Tapi sebaik dan semanis apapun perpisahan tetap saja ia memisahkan, bukan?. Bagaimanapun alur hidup ini setidaknya pernah berusaha setulus hati, Karena Allah tidak ingin kita menyerah tapi ingin kita berserah. Semoga setiap kejadian menjadikan kita menjadi  pribadi yang lebih baik lagi.aamiin

Innalillahi wa innailaihi roji’un : sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali". 

Semoga selalu ada ampunan pada,  harapan disetiap pertemuan dan kesedihan disetiap perpisahan.

Devi Pratiwi S
12/09/15





Jumat, 31 Juli 2015

Antara Aku, Hijrah dan Jodoh

#NoteToMySelf
Oleh : Devi Pratiwi Sudrajat



Beberapa hari kemarin saya bercakap dengan seorang sahabat. Kebahagiaan meliputi dikarenakan ia mulai menjalankan kewajiban mengenakan jilbab. Namun ada satu renungan untuk diri disaat kami mulai bebagi pengalaman. Sungguh tak bermaksud merasa diri jauh lebih baik karena kataqwaan seseorang hanya Allah yang patut menilai namun ada satu yang mengganjal di hati.

saya tanyakan kepadanya. “apa alasan kamu berhijrah ?”
Sahabatku mengatakan “Aku ingin memiliki jodoh yang baik”. Saya tersenyum lalu  bertanya kepada diri sendiri. Wahai diri apa alasanmu pun seperti itu?  Apa alasanmu berhijrah dikarenakan manusia? bukan benar-benar ingin taat kepada sang Maha pencipta ?

Saya yakin kita semua tau bahwa amalan seseorang dilihat dari niatnya. Jika niat hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya. Namun, jika hijrahnya karena seorang wanita, ia akan mendapatkannya, tapi tidak dengan Allah dan Rasul-Nya. Lalu, ketika niat memperbaiki diri yang dimaksud adalah untuk mendapatkan jodoh terbaik.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Semua tidaklah salah karena Allah yang menjanjikan, dengan ia mau menjalankan kewajiban mengenakan jilbabpun itu sudah sangat baik. “Jodoh adalah cerminan diri” adalah kalimat yang baik untuk memotivasi dalam kebaikan, hanya kadang terpikir segala yang kita lakukan memperbaiki diri, beraktivitas, bekerja, beribadah pernahkah terlintas untuk diniatkan lillahita’ala . Zat memberikan kita kehidupan zat yang mengatur qada dan qadar.  Niat kita untuk mendapatkan ridho Allah. Sebab, yakin pasti kebutuhan atau keinginan kita akan mengekor setelahnya. Allah Maha Tahu semua tentang kita, sedetil-detilnya. Bukankah lebih baik kita mendapatkan keridhoan Allah, ketimbang dunia dan seisinya? Api neraka yang  panas sekalipun akan menjadi sejuk jika Allah ridho. Para pendosa sekalipun bisa jadi masuk surga asal Allah ridho. Apalagi jodoh dan rejeki yang sangat mudah bagi Allah?

Dan satu yang pasti ketika kita memperbaiki diri. Siapakah yang patut menilai kita sudah baik ? hanya Allah bukan? Karena terkadang manusia hanya melihat kualitas seseorangi secara parsial tidak menyeluruh. Perihal nanti akan dijodohkan dengan siapa kita hanya wajib berikhtiar pada akhirnya Allah yang menentukan. Ketika Rosulullah SAW berjodoh dengan Siti Khadijah, Fatimah r.a dengan Ali ra, Fir’aun dengan Asiah. Atau aku dengan kamu. Hanya Allah yang tahu kebaikan untuk kita. Allah merahasiakan itu semua agar kita mau mengusahakannya bukan? Kita ditakdirkan untuk dilahirkan ke dunia hanya kita diwajibkan untuk memilih jalan baik atau buruk. Jika landasan kita karena Allah semoga Allah pun menetapkan takdir yang baik untuk kita. 

Di dalam do’a iftitah yang kita lafalkan setiap shalat, “ inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamati lillahi robbil-‘alamiin” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Sudahkah kita mengamalkanNya? tentu hanya diri kita yang  mampu menjawabnya.

Kesalahan kita, kemaksiatan kita dimasa lalu diwajibkan untuk kita perbaiki, dan semoga perbaikan itu ikhlas karenaNya agar tidak kecewa pada ketetapanNya.. Hidup adalah perjalanan pendek, hanya sebentar. Tak akan ada habisnya jika kita terus memikirkan tentang kehidupan dunia. Memikirkan hidup enak tapi lupa memikirkan mati enak. Karena sifat dasar manusia tidak pernah puas terhadap apa yang didapat.
 Semoga menjadi renungan untuk diri ini yang banyak khilaf. Wallahu’alam bishawab.





Rabu, 29 Juli 2015

Himpunan Syair UntukNya

Syair Musafir

Di antara ciptaanNya aku belajar menulis puisi
KarenaNya aku belajar bersyukur atas perjalanan ini.

Dia selalu berhasil membuatku jatuh hati
Pada ombak yang menerpa karang
Pada pasir putih yang tertiup angin
Dan pada perasaan yang tidak berubah.

Aku seorang musafir
Yang sedang dalam perjalanan penuh misteri
Melewati  deretan nyiur melambai indah atau
Badai besar menenggelamkan perahu nelayan.

Aku makhluk kecil yang tak suci
Tapi jika suatu saat Dia memanggilku dari kefanaan ini.
Aku ingin pulang ke taman surgawi
Taman yang keindahannya Dia ceritakan
Melalui kalam cintaNya melebihi perjalanan ini.

Sawarna, Banten
19 Juli 2015

Devi Pratiwi S


========================================================================

Iqro “ Bacalah “

Ya Rabb Maha Pengasih pelimpah kasih
Penyayang lagi pelimpah sayang

Basahilah bibir kami karena AyatMu
Sejukanlah pendengaran kami karena firmanMu
Getarkanlah hati kami untuk selalu
Mempelajari, mengajarkan serta mengamalkannya
Kita suci maha sempurna yang Engkau turunkan
Dengan sayap cahaya di langit Ramadhan

Semoga jiwa yang khilaf ini dituntun
Menuju kebenaran
Semoga raga yang kerdil ini disambut
Uluran kasih sayang

Ketika cinta makhluk tidak hakiki,
CintaMu senantiasa abadi.
Pedoman kami ketika kelak nanti
kehidupan berlanjut di alam sana.
Iqro “ Bacalah”

10 Ramadhan 1436 H
Devi Pratiwi S


Minggu, 12 Juli 2015

Alasan Kita Bertemu



Begitu agungnya yang Maha Kuasa telah menciptakan berbagai macam makhluk dan gen yang berbeda-beda.
Aku tidak pernah menghitung sudah berapa banyak manusia  yang telah bertatap muka dengan berbagai macam bentuk di muka bumi ini ? pernah berpikir untuk apa kita bertemu ? kenapa harus dia? Kenapa harus kita ? kebetulan? atau takdir?

Ditengah keajaiban tentang sebuah pertemuan, perkenalan, saling berinteraksi sehingga mengakibatkan banyak peristiwa, dan rasa. Baik menjadi teman, sahabat, pacar, tentang perasaan bahagia, kecewa, jatuh cinta, patah hati atau sejuta rasa yang telah terjadi.

Semua tidak ada yang sia-sia,
Ketika merasa bahagia Allah ingin membuat hati kita selalu bersyukur atas nikmatNya
Ketika merasa sakit Allah ingin kamu menghargai masa sehatmu serta menggugurkan dosa-dosamu
Ketika menyesali arti sebuah perpisahan Allah ingin kamu lebih menghargai seseorang yang pernah ada untukmu,
Ketika  merasa sedih dalam ujian berat Allah ingin kamu bersabar dan tegar.
Ketika merasa sangat kecewa Allah ingin bahwa kamu mengetahui bahwa betapa pedihnya sebuah pengharapan terhadap manusia, Allah mungkin cemburu ketika kamu selalu mendahulukan selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara yang sia-sia. Lalu ia pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik,  lagi-lagi tanpa kita sadari membuat pribadi kita menjadi lebih baik lagi.

Terkadang hikmah memang disadari jauh setelah peristiwa itu terjadi. Membiarkan hati sakit terlebih dahulu, menyesal atau mengijinkan akal menerawang tertawan sementara oleh banyak prasangka. Karena sebesar apapun ujiannya dalam hidup kita berusaha tidak menyalahkan seseorang mungkin sekalipun peristiwa yang kita alami sangat menyakitkan memaafkan seseorang memang tidak bisa mengubah keadaan dimasa lalu namun bisa melegakan masa kini dan berharap masa depan yang lebih baik. Bagaimanapun buruknya dia dimasalalu mungkin tidak terlepas dari kekurangan kita juga. Atau dampak apa yang telah kita lakukan dulu. Wallahu'alam. Semua itu akan menjadi cerita tentang betapa hidup terkadang harus seperti cerita fiksi ada pengarang sebagai pengatur alur dibalik apa yang di alami oleh para tokoh. Semua akan bilang " Semua ada hikmahnya " pada waktunya, ketika kita berhasil melewatinya.


Untuk seseorang yang ada di masa lalu, kini dan akan datang mereka selalu memberikan arti baru. Di setiap hela peristiwa, pada cinta,  pada rindu, pada hikmah, juga pada segala yang tak bisa di ungkap oleh kata.
Sebuah pertemuan itu selalu memiliki alasan, entah menjadi kebahagiaan atau menjadi pelajaran apapun yang terjadi dengan kita nanti percayalah kita bertemu bukan karena kebetulan, tapi karena skenario Tuhan.


Devi Pratiwi S

11/07/2015


Jumat, 19 Juni 2015

Dunia Profesi dan Pasca Sarjana



“ Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat”

Sudah hampir sembilan bulan lamanya rindu menulis disini, bukan karena tidak mau. Tapi karena waktu yang mungkin belum tepat kucurahkan segala perasaan disini. Mungkin bisa dibilang akhir-akhir ini “So Sibuk”. Tapi sebenarnya aku tak lupa menulis. Serpihan-serpihan perasaan, gagasan, harapan, masih kutilis berserakan di Note Handphone atau di note book. Dimana saja asal ada yang mendengar walau mereka tetap bungkam tidak bersuara.  Tapi hari ini khusus kusempatkan mengunjungi dan menuliskan rasa syukur tentang memasuki dunia baruku.

2015 di tahun ini Allah telah merahmatiku usia yang menginjak 23 tahun. Muda? Tentu saja tidak muda lagi aku bukan lagi ABG. Tua juga tidak, aku lebih senang menyebutnya dengan usia menuju matang. Usia dimana seseorang sedang merangkak meniti kesuksesan dari nol.

Selepas September 2014 lalu aku diwisuda sebagai tanda aku telah lulus kuliah dan resmilah menjadi sarjana pendidikan kimia. Beberapa hari setelah itu aku mencoba melamar perkerjaan tentunya menjadi seorang pengajar/ pendidik. Aku masukan CV dan legalisasi Surat Tanda Lulus  *saat itu ijazah belum keluar* ke beberapa Lembaga pendidikan formal (Sekolah) dan informal (Bimbingan belajar). Tidak lama setelah itu ada beberapa panggilan baik dari sekolah swasta maupun tempat bimbel aku jalani beberapa tahap test TPA, microteaching dan konten. Dengan kehendak Allah SWT akhirnya aku mulai bekerja di sebuah bimbingan belajar ternama di Kota Bandung. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang aku ambil dari lembaga ini. Ilmu yang alhamdulillah dapat aku amalkan kepada anak didiku serta mengenal rekan-rekan kerja yang heterogen. Alhamdulillah di lembaga ini aku merasa rekan-rekan kerja memiliki rasa empathy tinggi.

          Mengajar adalah cita-citaku sejak kecil. Entah kenapa aku senang menghadapi anak-anak yang memang notabene memiliki karakter dan kemampuan intelegen yang berbagai macam. Terlebih mengajar di tempat bimbel jauh berbeda dengan mengajar disekolah. Disini kita dituntut untuk bersabar dalam menghadapi peserta didik karena mengajar di bimbel mengedepankan pelayanan terbaik agar anak mendapat prestasi disekolah sebaik mungkin. Anak didiku memanggilku “Kakak” tidak lagi ibu seperti kala aku mengajar disekolah dulu.  Ya memang berbagai macam, ada yang datang dan serius belajar, ada yang datang hanya untuk memenuhi absensi, ada juga yang inginnya curhat dan malas belajar. Disitulah peran kita diposisikan sebagai tutor tidak hanya sebagai guru. Kedekatan dengan anak lebih di utamakan, jika kita sudah dekat dengan anak tersebut akan merasa nyaman dan kita menjadi tau kesulitan belajar dan masalah yang dihadapi anak didik kita. Ya begitulah walau baru delapan bulan tapi rasanya nano-nano ^_^ .


          Dalam karier tentu setiap orang memiliki pencapaian tertentu. Di Tahun 2015 ini aku ingin sekali, diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana. Dengan niat yang kuat, usaha, do’a dan keyakinan pada tanggal 2 April tepat hari ulang tahunku. Aku mencoba mendaftarkan diri mengikuti seleksi pasca sarjana di UPI Bandung. Mengingat kampus ini adalah kampus idamanku, sayangnya 2010 lalu aku gagal SNMPTN, tapi ditahun ini Allah menunjukan kebesarannya,  Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat dan  di Tahun 2015 ini Allah menjawab do’a dan harapanku. 2 Ramadhan tepatnya 19 Juni Aku dinyatakan LULUS sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia program studi Pendidikan Kimia. Tidak pernah berhenti rasa syukur ku panjatkan atas kesempatan ini. Allah selalu ada untuku.

          Kabar gembira ini tentu aku sampaikan kepada kedua orang tua, sahabat-sabahat yang senantiasa mendo’akan dan mendukungku. Untuk mereka yang selalu mencintaiku dengan tulus. Ayah bertanya “ Yakin mau lanjut S2?” aku jawab “ Yakin” dengan mantap. “ Ayah lulusan S1 dan berharap punya anak memiliki pendidikan lebih tinggi, Ibu menjadi guru berharap anaknya bisa jadi dosen. Lulusan S2 mungkin sekarang banyak, jangan hanya sekedar untuk bergaya. Tapi diniatkan dengan baik mau dibawa kemana gelar kita” Ungkap ayah.   
          Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku tidak mau menjadikan sekolah ini sebagai beban, ajang untuk mencari gelar saja. Tapi bagaimana di jenjang ini aku bisa belajar dan mencari ilmu sebanyak dan sebaik mungkin agar kelak aku bisa menebar manfaat dimanapun aku berada. Urusan nanti jadi guru , dosen, PNS atau ibu rumah tangga. Aku selalu tawakal tentang ketetapan Allah pasti terbaik walau pasti akupun memiliki harapan tentang masa depan. Pun kedepannya semoga Allah kembali meridhoi usahaku dan mengizinkan untuk mendapat beasiswa agar bisa meringankan beban ayah dan ibu.

          Banyak orang mengatakan untuk apa seorang perempuan sekolah tingg-tinggi karena pada akhirnya ia akan mengurus rumah tangga. Memang benar kodrat seorang perempuan kelak jika telah menikah adalah keluarga sebagai prioritas. Pendidikan tinggi untuk perempuan pada intinya bukan untuk menyaingi laki-laki atau sebagai karyawati. Namun, bukankah seorang manusia akan menjadi suatu generasi terlahir dari rahim seorang wanita, dididik oleh seorang wanita, sebagian gen kecerdasan itu warisan dari wanita. Oleh karena itu aku masih percaya jika generasi terbaik dilahirkan oleh wanita terbaik pula.
Walau pada akhirnya setiap wanita harus meminta persetujuan dari suami tentang profesi dan karir mereka agar tidak meninggalkan hak dan kewajibannya ketika kelak sudah memiliki keluarga sendiri. Pun begitu pula diriku kelak. Karena satu nasihat yang selalu ku ingat bahwa “Keberhasilan tertinggi seorang wanita akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapat ridha dari orangtua dan suaminya, sebuah hadits mengatakan pelayananmu terhadap suamimu, adalah surga atau nerakamu”. Perihal ada statemen bahwa laki-laki akan minder jika seorang perempuan memiliki pendidikan terlalu tinggi. Aku tidak sepenuhnya percaya. Laki-laki yang mampu menjadi imam yang baik justru ia yang berusaha menjadi yang terbaik, sama-sama memantaskan diri, tidak memandang rendah atau terlalu tinggi orang lain. Yang mampu menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing agar suatu saat dapat saling melengkapi bersama-sama menggapai ridho IllahiRabbi. In Syaa Allah.  

Selamat datang dunia Profesi dan Pasca Sarjana. Semoga aku selalu dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama dan bangsa. Selalu menjadi manusia yang bermanfaat.
Diberi kelancaran dan kemudahan dalam setiap prosesnya. Dan yang paling penting yang kuharapkan semoga Allah selalu ridha dalam setiap cita-citaku. Aamiin

Bismillah,



Devi Pratiwi Sudrajat. J