LET's

Jumat, 31 Juli 2015

Antara Aku, Hijrah dan Jodoh

#NoteToMySelf
Oleh : Devi Pratiwi Sudrajat



Beberapa hari kemarin saya bercakap dengan seorang sahabat. Kebahagiaan meliputi dikarenakan ia mulai menjalankan kewajiban mengenakan jilbab. Namun ada satu renungan untuk diri disaat kami mulai bebagi pengalaman. Sungguh tak bermaksud merasa diri jauh lebih baik karena kataqwaan seseorang hanya Allah yang patut menilai namun ada satu yang mengganjal di hati.

saya tanyakan kepadanya. “apa alasan kamu berhijrah ?”
Sahabatku mengatakan “Aku ingin memiliki jodoh yang baik”. Saya tersenyum lalu  bertanya kepada diri sendiri. Wahai diri apa alasanmu pun seperti itu?  Apa alasanmu berhijrah dikarenakan manusia? bukan benar-benar ingin taat kepada sang Maha pencipta ?

Saya yakin kita semua tau bahwa amalan seseorang dilihat dari niatnya. Jika niat hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya. Namun, jika hijrahnya karena seorang wanita, ia akan mendapatkannya, tapi tidak dengan Allah dan Rasul-Nya. Lalu, ketika niat memperbaiki diri yang dimaksud adalah untuk mendapatkan jodoh terbaik.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Semua tidaklah salah karena Allah yang menjanjikan, dengan ia mau menjalankan kewajiban mengenakan jilbabpun itu sudah sangat baik. “Jodoh adalah cerminan diri” adalah kalimat yang baik untuk memotivasi dalam kebaikan, hanya kadang terpikir segala yang kita lakukan memperbaiki diri, beraktivitas, bekerja, beribadah pernahkah terlintas untuk diniatkan lillahita’ala . Zat memberikan kita kehidupan zat yang mengatur qada dan qadar.  Niat kita untuk mendapatkan ridho Allah. Sebab, yakin pasti kebutuhan atau keinginan kita akan mengekor setelahnya. Allah Maha Tahu semua tentang kita, sedetil-detilnya. Bukankah lebih baik kita mendapatkan keridhoan Allah, ketimbang dunia dan seisinya? Api neraka yang  panas sekalipun akan menjadi sejuk jika Allah ridho. Para pendosa sekalipun bisa jadi masuk surga asal Allah ridho. Apalagi jodoh dan rejeki yang sangat mudah bagi Allah?

Dan satu yang pasti ketika kita memperbaiki diri. Siapakah yang patut menilai kita sudah baik ? hanya Allah bukan? Karena terkadang manusia hanya melihat kualitas seseorangi secara parsial tidak menyeluruh. Perihal nanti akan dijodohkan dengan siapa kita hanya wajib berikhtiar pada akhirnya Allah yang menentukan. Ketika Rosulullah SAW berjodoh dengan Siti Khadijah, Fatimah r.a dengan Ali ra, Fir’aun dengan Asiah. Atau aku dengan kamu. Hanya Allah yang tahu kebaikan untuk kita. Allah merahasiakan itu semua agar kita mau mengusahakannya bukan? Kita ditakdirkan untuk dilahirkan ke dunia hanya kita diwajibkan untuk memilih jalan baik atau buruk. Jika landasan kita karena Allah semoga Allah pun menetapkan takdir yang baik untuk kita. 

Di dalam do’a iftitah yang kita lafalkan setiap shalat, “ inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamati lillahi robbil-‘alamiin” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Sudahkah kita mengamalkanNya? tentu hanya diri kita yang  mampu menjawabnya.

Kesalahan kita, kemaksiatan kita dimasa lalu diwajibkan untuk kita perbaiki, dan semoga perbaikan itu ikhlas karenaNya agar tidak kecewa pada ketetapanNya.. Hidup adalah perjalanan pendek, hanya sebentar. Tak akan ada habisnya jika kita terus memikirkan tentang kehidupan dunia. Memikirkan hidup enak tapi lupa memikirkan mati enak. Karena sifat dasar manusia tidak pernah puas terhadap apa yang didapat.
 Semoga menjadi renungan untuk diri ini yang banyak khilaf. Wallahu’alam bishawab.





Rabu, 29 Juli 2015

Himpunan Syair UntukNya

Syair Musafir

Di antara ciptaanNya aku belajar menulis puisi
KarenaNya aku belajar bersyukur atas perjalanan ini.

Dia selalu berhasil membuatku jatuh hati
Pada ombak yang menerpa karang
Pada pasir putih yang tertiup angin
Dan pada perasaan yang tidak berubah.

Aku seorang musafir
Yang sedang dalam perjalanan penuh misteri
Melewati  deretan nyiur melambai indah atau
Badai besar menenggelamkan perahu nelayan.

Aku makhluk kecil yang tak suci
Tapi jika suatu saat Dia memanggilku dari kefanaan ini.
Aku ingin pulang ke taman surgawi
Taman yang keindahannya Dia ceritakan
Melalui kalam cintaNya melebihi perjalanan ini.

Sawarna, Banten
19 Juli 2015

Devi Pratiwi S


========================================================================

Iqro “ Bacalah “

Ya Rabb Maha Pengasih pelimpah kasih
Penyayang lagi pelimpah sayang

Basahilah bibir kami karena AyatMu
Sejukanlah pendengaran kami karena firmanMu
Getarkanlah hati kami untuk selalu
Mempelajari, mengajarkan serta mengamalkannya
Kita suci maha sempurna yang Engkau turunkan
Dengan sayap cahaya di langit Ramadhan

Semoga jiwa yang khilaf ini dituntun
Menuju kebenaran
Semoga raga yang kerdil ini disambut
Uluran kasih sayang

Ketika cinta makhluk tidak hakiki,
CintaMu senantiasa abadi.
Pedoman kami ketika kelak nanti
kehidupan berlanjut di alam sana.
Iqro “ Bacalah”

10 Ramadhan 1436 H
Devi Pratiwi S


Minggu, 12 Juli 2015

Alasan Kita Bertemu



Begitu agungnya yang Maha Kuasa telah menciptakan berbagai macam makhluk dan gen yang berbeda-beda.
Aku tidak pernah menghitung sudah berapa banyak manusia  yang telah bertatap muka dengan berbagai macam bentuk di muka bumi ini ? pernah berpikir untuk apa kita bertemu ? kenapa harus dia? Kenapa harus kita ? kebetulan? atau takdir?

Ditengah keajaiban tentang sebuah pertemuan, perkenalan, saling berinteraksi sehingga mengakibatkan banyak peristiwa, dan rasa. Baik menjadi teman, sahabat, pacar, tentang perasaan bahagia, kecewa, jatuh cinta, patah hati atau sejuta rasa yang telah terjadi.

Semua tidak ada yang sia-sia,
Ketika merasa bahagia Allah ingin membuat hati kita selalu bersyukur atas nikmatNya
Ketika merasa sakit Allah ingin kamu menghargai masa sehatmu serta menggugurkan dosa-dosamu
Ketika menyesali arti sebuah perpisahan Allah ingin kamu lebih menghargai seseorang yang pernah ada untukmu,
Ketika  merasa sedih dalam ujian berat Allah ingin kamu bersabar dan tegar.
Ketika merasa sangat kecewa Allah ingin bahwa kamu mengetahui bahwa betapa pedihnya sebuah pengharapan terhadap manusia, Allah mungkin cemburu ketika kamu selalu mendahulukan selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara yang sia-sia. Lalu ia pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik,  lagi-lagi tanpa kita sadari membuat pribadi kita menjadi lebih baik lagi.

Terkadang hikmah memang disadari jauh setelah peristiwa itu terjadi. Membiarkan hati sakit terlebih dahulu, menyesal atau mengijinkan akal menerawang tertawan sementara oleh banyak prasangka. Karena sebesar apapun ujiannya dalam hidup kita berusaha tidak menyalahkan seseorang mungkin sekalipun peristiwa yang kita alami sangat menyakitkan memaafkan seseorang memang tidak bisa mengubah keadaan dimasa lalu namun bisa melegakan masa kini dan berharap masa depan yang lebih baik. Bagaimanapun buruknya dia dimasalalu mungkin tidak terlepas dari kekurangan kita juga. Atau dampak apa yang telah kita lakukan dulu. Wallahu'alam. Semua itu akan menjadi cerita tentang betapa hidup terkadang harus seperti cerita fiksi ada pengarang sebagai pengatur alur dibalik apa yang di alami oleh para tokoh. Semua akan bilang " Semua ada hikmahnya " pada waktunya, ketika kita berhasil melewatinya.


Untuk seseorang yang ada di masa lalu, kini dan akan datang mereka selalu memberikan arti baru. Di setiap hela peristiwa, pada cinta,  pada rindu, pada hikmah, juga pada segala yang tak bisa di ungkap oleh kata.
Sebuah pertemuan itu selalu memiliki alasan, entah menjadi kebahagiaan atau menjadi pelajaran apapun yang terjadi dengan kita nanti percayalah kita bertemu bukan karena kebetulan, tapi karena skenario Tuhan.


Devi Pratiwi S

11/07/2015


Jumat, 19 Juni 2015

Dunia Profesi dan Pasca Sarjana



“ Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat”

Sudah hampir sembilan bulan lamanya rindu menulis disini, bukan karena tidak mau. Tapi karena waktu yang mungkin belum tepat kucurahkan segala perasaan disini. Mungkin bisa dibilang akhir-akhir ini “So Sibuk”. Tapi sebenarnya aku tak lupa menulis. Serpihan-serpihan perasaan, gagasan, harapan, masih kutilis berserakan di Note Handphone atau di note book. Dimana saja asal ada yang mendengar walau mereka tetap bungkam tidak bersuara.  Tapi hari ini khusus kusempatkan mengunjungi dan menuliskan rasa syukur tentang memasuki dunia baruku.

2015 di tahun ini Allah telah merahmatiku usia yang menginjak 23 tahun. Muda? Tentu saja tidak muda lagi aku bukan lagi ABG. Tua juga tidak, aku lebih senang menyebutnya dengan usia menuju matang. Usia dimana seseorang sedang merangkak meniti kesuksesan dari nol.

Selepas September 2014 lalu aku diwisuda sebagai tanda aku telah lulus kuliah dan resmilah menjadi sarjana pendidikan kimia. Beberapa hari setelah itu aku mencoba melamar perkerjaan tentunya menjadi seorang pengajar/ pendidik. Aku masukan CV dan legalisasi Surat Tanda Lulus  *saat itu ijazah belum keluar* ke beberapa Lembaga pendidikan formal (Sekolah) dan informal (Bimbingan belajar). Tidak lama setelah itu ada beberapa panggilan baik dari sekolah swasta maupun tempat bimbel aku jalani beberapa tahap test TPA, microteaching dan konten. Dengan kehendak Allah SWT akhirnya aku mulai bekerja di sebuah bimbingan belajar ternama di Kota Bandung. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang aku ambil dari lembaga ini. Ilmu yang alhamdulillah dapat aku amalkan kepada anak didiku serta mengenal rekan-rekan kerja yang heterogen. Alhamdulillah di lembaga ini aku merasa rekan-rekan kerja memiliki rasa empathy tinggi.

          Mengajar adalah cita-citaku sejak kecil. Entah kenapa aku senang menghadapi anak-anak yang memang notabene memiliki karakter dan kemampuan intelegen yang berbagai macam. Terlebih mengajar di tempat bimbel jauh berbeda dengan mengajar disekolah. Disini kita dituntut untuk bersabar dalam menghadapi peserta didik karena mengajar di bimbel mengedepankan pelayanan terbaik agar anak mendapat prestasi disekolah sebaik mungkin. Anak didiku memanggilku “Kakak” tidak lagi ibu seperti kala aku mengajar disekolah dulu.  Ya memang berbagai macam, ada yang datang dan serius belajar, ada yang datang hanya untuk memenuhi absensi, ada juga yang inginnya curhat dan malas belajar. Disitulah peran kita diposisikan sebagai tutor tidak hanya sebagai guru. Kedekatan dengan anak lebih di utamakan, jika kita sudah dekat dengan anak tersebut akan merasa nyaman dan kita menjadi tau kesulitan belajar dan masalah yang dihadapi anak didik kita. Ya begitulah walau baru delapan bulan tapi rasanya nano-nano ^_^ .


          Dalam karier tentu setiap orang memiliki pencapaian tertentu. Di Tahun 2015 ini aku ingin sekali, diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana. Dengan niat yang kuat, usaha, do’a dan keyakinan pada tanggal 2 April tepat hari ulang tahunku. Aku mencoba mendaftarkan diri mengikuti seleksi pasca sarjana di UPI Bandung. Mengingat kampus ini adalah kampus idamanku, sayangnya 2010 lalu aku gagal SNMPTN, tapi ditahun ini Allah menunjukan kebesarannya,  Allah tidak menolak do’a ku Dia hanya mengabulkannya di saat yang tepat dan  di Tahun 2015 ini Allah menjawab do’a dan harapanku. 2 Ramadhan tepatnya 19 Juni Aku dinyatakan LULUS sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia program studi Pendidikan Kimia. Tidak pernah berhenti rasa syukur ku panjatkan atas kesempatan ini. Allah selalu ada untuku.

          Kabar gembira ini tentu aku sampaikan kepada kedua orang tua, sahabat-sabahat yang senantiasa mendo’akan dan mendukungku. Untuk mereka yang selalu mencintaiku dengan tulus. Ayah bertanya “ Yakin mau lanjut S2?” aku jawab “ Yakin” dengan mantap. “ Ayah lulusan S1 dan berharap punya anak memiliki pendidikan lebih tinggi, Ibu menjadi guru berharap anaknya bisa jadi dosen. Lulusan S2 mungkin sekarang banyak, jangan hanya sekedar untuk bergaya. Tapi diniatkan dengan baik mau dibawa kemana gelar kita” Ungkap ayah.   
          Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku tidak mau menjadikan sekolah ini sebagai beban, ajang untuk mencari gelar saja. Tapi bagaimana di jenjang ini aku bisa belajar dan mencari ilmu sebanyak dan sebaik mungkin agar kelak aku bisa menebar manfaat dimanapun aku berada. Urusan nanti jadi guru , dosen, PNS atau ibu rumah tangga. Aku selalu tawakal tentang ketetapan Allah pasti terbaik walau pasti akupun memiliki harapan tentang masa depan. Pun kedepannya semoga Allah kembali meridhoi usahaku dan mengizinkan untuk mendapat beasiswa agar bisa meringankan beban ayah dan ibu.

          Banyak orang mengatakan untuk apa seorang perempuan sekolah tingg-tinggi karena pada akhirnya ia akan mengurus rumah tangga. Memang benar kodrat seorang perempuan kelak jika telah menikah adalah keluarga sebagai prioritas. Pendidikan tinggi untuk perempuan pada intinya bukan untuk menyaingi laki-laki atau sebagai karyawati. Namun, bukankah seorang manusia akan menjadi suatu generasi terlahir dari rahim seorang wanita, dididik oleh seorang wanita, sebagian gen kecerdasan itu warisan dari wanita. Oleh karena itu aku masih percaya jika generasi terbaik dilahirkan oleh wanita terbaik pula.
Walau pada akhirnya setiap wanita harus meminta persetujuan dari suami tentang profesi dan karir mereka agar tidak meninggalkan hak dan kewajibannya ketika kelak sudah memiliki keluarga sendiri. Pun begitu pula diriku kelak. Karena satu nasihat yang selalu ku ingat bahwa “Keberhasilan tertinggi seorang wanita akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapat ridha dari orangtua dan suaminya, sebuah hadits mengatakan pelayananmu terhadap suamimu, adalah surga atau nerakamu”. Perihal ada statemen bahwa laki-laki akan minder jika seorang perempuan memiliki pendidikan terlalu tinggi. Aku tidak sepenuhnya percaya. Laki-laki yang mampu menjadi imam yang baik justru ia yang berusaha menjadi yang terbaik, sama-sama memantaskan diri, tidak memandang rendah atau terlalu tinggi orang lain. Yang mampu menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing agar suatu saat dapat saling melengkapi bersama-sama menggapai ridho IllahiRabbi. In Syaa Allah.  

Selamat datang dunia Profesi dan Pasca Sarjana. Semoga aku selalu dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama dan bangsa. Selalu menjadi manusia yang bermanfaat.
Diberi kelancaran dan kemudahan dalam setiap prosesnya. Dan yang paling penting yang kuharapkan semoga Allah selalu ridha dalam setiap cita-citaku. Aamiin

Bismillah,



Devi Pratiwi Sudrajat. J

Minggu, 26 Oktober 2014

Cinta Tanpa Definisi


Cinta Tanpa Definisi
-Anis Matta -
          
Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.


Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detail-detail nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.

Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detail-detail nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.

Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat, Dahsyat, Lembut, Tak terlihat. Penuh haru biru. Padatmakna. Sarat gairah. Dan, anagonis.

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisi: karena ~kemudian~ semua keajaiban terjawab disini.

Kamis, 18 September 2014

Wisuda 2014 Buah Dari Perjuangan


Sepenggal episode hidup :

“ Skripsi ini ku persembahkan untuk Allah, keluarga, sahabat, para guru dan untuk yang ku cintai lagi mencintaiku “

Tentu saja disini aku tidak akan menulis skripsi,  kalimat di atas hanya sebuah kutipan ucapan syukurku di lembar tugas akhir strata-1 . Alhamdulillah segala syukur ku panjatkan kepada Allah SWT Tuhan semesta Alam karena atas izinNya aku berhasil menyelesaikan studi Sarjana Pendidikan tepat waktu. Allah menjawab do’a-do’ku serta do’a-do’a orang yang selalu senantiasa mendukungku menemani perjuangan ini. Wisuda adalah jawaban atas do’a dan buah dari perjuangan studi, setidaknya ini salah satu caraku untuk membahagiakan kedua orang tua karena aku tahu jasa dan perjuangan mereka untuk mendidik dan menyekolahkanku itu bukanlah perkara mudah. Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain kita bisa membuat orangtua tersenyum dengan sebuah usaha kita. Terimakasih ayah dan ibu semoga Allah selalu menyanyangi kalian membalas kasih sayang kalian dengan banyak kebaikan.

Kemarin dalam acara pelepasan wisuda prodi pendidikan kimia aku berkesempatan untuk menjadi perwakilan wisudawan/wati untuk menyampaikan pidato kelulusan di depan para dosen, orang tua, adik tingkat dan kawan-kawan seperjuangan.Tak banyak yang dapat kusampaikan selain rasa syukur yang teramat dalam menyampaikan penggalan kalimat bahwa “Wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, tapi merupakan fase awal memasuki dunia yang baru  dunia dimana kita dihadapkan dengan dunia yang sebenarnya sebagai awal dari pendewasan (profesi)”.
Berasa kemarin aku menangis belum lulus SNMPTN ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) seandainya kau tahu mataku sembab seminggu kala itu berat badan turun drastis*terdengar berlebihan memang* karena aku rasa aku sudah berjuang semaksimal mungkin  tapi takdir berkata lain. Sering kali dalam hidup kita tak pandai fahami takdir  tapi sungguh ketika dijalani Allah memiliki rencana yang sangat indah. Sedari kecil aku memang bercita-cita menjadi guru, ketika itu aku harus mengambil “Planning hidup kedua” percis kurang lebih empat tahun yang lalu aku menginjakan kaki di Universitas ini setelah dinyatakan lulus ujian tulis dengan serangkaian tahapan dari mulai test pengetahuan umum sampai keagamaan.  Dan Allah menakdirkan aku menjadi mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri  Sunan Gunung Djati Bandung kupikir nama perguruan tinggi ini panjang sekali. UIN universitas yang punya label “ISLAM” katanya. Jelas karena Perguruan Tinggi Negeri ini berada dalam naungan Departemen Agama. Awal-awal kuliah rasanya ingin mutasi saja melihat kebanyakan teman-temanku notabene berlatar belakang pesantren atau aliyah.
Tapi setelah bersabar menjalaninya,  disini di tempat inilah aku menemukan jati diri. sungguh rencana Allah sangatlah indah. Disini aku mulai mengenal jilbab syar’i dan mencoba mengistiqomahkan diri “Mendahulukan yang wajib dan mengutamakan yang sunnah”,disini aku belajar tidak hanya ilmu pendidikan dan sains kimia tapi aku belajar MKDU ( Mata Kuliah Dasar Umum) nya pun bahasa arab, ulumul hadits, ulumul qur’an, Ilmu fiqh, ilmu kalam/tauhid,Ilmu Tasawuf, Sejarah peradaban Islam dsb yang begitu aku menikmatinya karena kebetulan latar belakang pendidikanku itu SD, SMP, SMA Umum dan yang paling berharga adalah tuntutan S1 UIN harus hapal juz 30 “Ya terkadang suatu tuntutan atau keterpaksaan membuat kita membuat kebiasaan yang baik”. Dengan semua itu harapannya bahwa sarjana UIN punya nilai plus dikemudian hari tidak minder membandingan dengan Universitas lain, agak sedikit berat memang membawa nama Islam dalam ijazah ku, namun kuharap itu semua tidak hanya simbol tapi semoga dapat di implementasikan dalam kehidupan karena itulah yang terpenting.
Menjadi mahasiswa S1 aku sungguh terinspirasi dari perkataan mbak Oki Setiana Dewi “Aku tak mau menjadi mahasiswa Kupu-Kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) Kaya ilmu miskin pengalaman, juga  tak mau menjadi mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) kewajiban utama terbengkalai”. Ya aku ingin hidupku berkah untuk sesama dan seimbang untuk itu disini aku mengenal Organisasi HAMKA Himpunan yang pernah kuceritakan dulu yang membuatku lebih berkembang. Juga mengenal LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) yang bernama LDM ( Lembaga Dakwah Mahasiswa ) jujur saja organisasi ini membawa perubahan begitu besar dalam hidupku. Tentang sebuah prinsip hidup memperkenalkanku pada tarbiyah, tentang ukhuwah kita ukh. Sipat, Ukh. Yanti, Ukh. Uyun, Ukh. Ajeng,Ukhti  Sri,Ukh. Cici, Ukh. Nida , Ukh Weni,Ukh Tia, Ukh Trisna, Ukh. Teti, Ukh Fitri  LDM 2010 “Ukhibuki Fillah” yang selalu menguatkanku dalam keistiqomahan dalam lingkaran membina dan dibina itu, jika harus ku bercerita disini rasanya terlalu banyak yang sudah kulewati juga berjuang bersama rekan-rekan FSLDK Baraya membuat aku memiliki banyak saudara dari berbagai kampus. HAMKA dan LDK kedua organisasi itu yang membuatku banyak belajar tentang idealisme layaknya mahasiswa agent of change, agent of control  tentang tri dharma perguruan tinggi, tentang dinamika politik kampus yang mungkin belum tentu ku temukan ketika kelak ku jalani pendidikan di S2 ataupun S3 kelak .
Selama mengemban pendidikan di UIN tentu aku tidak sendiri. Aku dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan;  Pendidikan Kimia 2010 terutama kelas A  suka duka delapan semester kita bersama, rekan-rekan PPL SMAN 26 Bandung, Kelompok KKM 288  dusun Cibungur Sumedang. Tidak hentinya ku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok-sosok yang luar biasa seperti mereka.
Aku juga menemukan sahabat , sahabat yang senantiasa menamani perjuangan kala suka duka tentang kita tentang kebersamaan yang begitu indah. Mereka mampu menerimaku apa adanya. Esa Nur’anisa (doso) sosok saudara kembarku dengan banyak persamaan diantara kita, bisa dibilang we’re soulmate “Dimana ada esa, pasti ada devi”berjuang bersama, Hilda Nur’anida (Dodot), Dini Andriyanti (Nde), Dian Nurjanah (Ceudi ), Ade Winayah (kodew), Fitriyani Muthi (Marmut), Anisa Illahi (Cabel), Lia Nurliana (Buli), dan Feny Hadiyanti (Fenol) dan aku Devi Pratiwi  ( KOPI mereka memanggilku ) yang kita sebut  nama persahabatan ini dengan“CANTIQ” :D .Bersama mereka kutemukan ketulusan. Di Aljabar “Bescamp kita” tempat berbagi, belajar bersama. Ku pikir empat tahun kebersamaan kita lebih dari sekedar indah mengenal mereka adalah suatu kebahagiaan. Yang mungkin hari esok kita akan melewati fase yang baru. Ku harap rasa kekeluargaan dan silahturahim  harus tetap terjaga sampai nanti kita menikah, mempunyai anak hingga sampai tua pun memori ini akan selalu ada  yang mungkin akan menjadi kenangan dan bahan canda tawa tentang kekonyolan kita kala itu . J

Kala aku terpuruk dulu, ibu pernah berkata “ Dimanapun mutiara berada ia akan terlihat kilaunya sekalipun didalam lumpur”. Di UIN Fakultas MIPA perlu banyak perjuangan untuk mendapat IP lebih dari tiga. Aku sangat bersyukur hingga pada kelulusan aku mendapat predikat Cumlaude dengan IPK 3,59. Sungguh perjuangan yang tidak mudah.

Selain menjadi mahasiswa aku pun terpilih menjadi Ass-Lab ( Asistent Laboratorium ) banyak pengalaman yang dapat aku ambil selama 4 semester 2 semester di Kimia dasar dan 2 semester di kimia organik, karena tidak semua orang dapat kesempatan itu,beasiswa DIPA , selain itu aku juga menjadi bagian dari anggota ACE ( Association Chemistry Education ) sebuah komunitas pendidikan kimia yang menggali potensi ilmiah angkatan pertama, bersama ibu dosen bu Euis kami membentuk komunitas ini berharap dapat menghasilkan generasi pendidikan kimia yang unggul dan berprestasi membawa nama baik Pendidikan Kimia UIN Bandung.

Semua pencapaianku tentu tidak terlepas dari bimbingan dosen-dosen yang begitu sabar membimbing kami. Bu Dra. Cucu Zenab S, M.Pd bu Kaprodi yang selalu dekat dan bersahabat sudah seperti ibu kami di pendidikan kimia , Bu. Dr. Ida Farida, M,Pd ,Bu Dr. Hj. Yunita,M.Pd, Bu. Dr.Hj. Siti Suyaningsih, M.Pd , Bu Dra. Neneng Windayani, M.Pd, Bu. Risa Rahmawati, M.P.Kim, Bu Euis Nursa’adah, M.Pd , Bu Dra.  Ratih Pitasari, M.Pd, Bu Imelda Helsy, M.Pd, Bu .Sari, M.Pd , Pak  Dr. Ara Hidayat, M.Pd, ,Pak Dadang Muhamad, M,Si mereka adalah sosok yang luar biasa. Menginspirasi kelak akupun ingin seperti mereka. Aamiin ^_^

Terimakasih kuhaturkan sebanyak-banyak kepada bu Dr. Ida Farida,M.Pd sosok menginspirasi dengan banyak karya ilmiahnya yang senantiasa dengan sabar membimbing skripsiku, yang pada saat itu aku sering galau karna nekat pengambil penelitian “Kualitatif” ^_^ , bersama Bu Dra.Ratih Pitasari ,M.Pd  pembimbing kedua skripsiku ibu dosen dan guru teladan dimataku.  Bu Euis Nursya’adah,M.Pd adalah dosen favorite ku dosen  muda serba bisa yang gaul juga terbuka bersama ibu wawasan ku meluas. Teruslah menjadi sosok yang menginspirasi bu dosen pembaharu untuk civitas akadamik UIN yang lebih baik.
 Dan terimakasih ku ucapkan kepada dosen pembimbing akademiku dari semester awal hingga akhir bu Dr. Hj. Yunita, M.Pd beliau sosok yang menginspirasi  trainer nasional kimia, penulis buku, dalam keadaan yang sedang sakit beliau setia mengajari dan membimbing kami bu Yunita juga sering mengirimkan SMS “devi sudah sampai mana skripsinya? Semangat ya” ditengah kesibukannya ibu selalu mengingatku, ah bu tak tau kami harus membalas apa semoga kebaikan ibu senantiasa Allah balas dengan berjuta kebaikan. Semoga ibu selalu diberi kesehatan. Ibu Neneng Windayani, M.Pd sosok dosen akhwat yang gaul yang selalu menginspirasi ketika mengajar yang selalu mengaitkan ilmu kimia dengan kekuasaan Allah SWT. Mungkin ilmu dan kebaikan mereka tak bisa aku balas tapi aku senantiasa berdoa agar Allah memberi banyak kebaikan untuk para dosenku tercinta.
Terimakasih bunga, coklat dan hadiah-hadiahnya yang sudah menyempatkan hadir ke UIN  jauh-jauh Agmer, Dita, Amel, Raika, Anez, teman2 kosan, Adik2 tingkat LDM, HAMKA. Semoga sukses selalu.
Itulah sepenggal episode hidup ini, sebuah kebahagiaan yang tak bisa aku jelaskan. memasuki fase yang baru dalam hidupku, bukan tentang toga dikepala, selembar ijazah, gelar dibelakang nama tapi bagaimana setelah ini aku harus memulai penggalan episode yang baru dengan harapan semua ilmu yang kudapat bisa menjadi berkah untuk orang-orang disekitarku, menjadi jalan pengabdian untuk bangsa dan agama lewat profesiku. Perjuanganku tentu tidaklah sampai disini, ini bukan akhir kawan, tapi ini awal perjuangan baru yang tentu masih banyak impian dan harapan yang ingin ku capai entah akan menjadi guru, kepala sekolah, dosen atau menjadi ibu rumah tangga sekalipun bahwa memang benar wanita harus memiliki pendidikan yang tinggi karena ia madrasah pertama dari sebuah generasi, teladan bagi keluaga (anak-anaknya) kelak nanti. J

See You On the Top SUCCSESS !!!!
“Terus belajar dan perbaiki diri untuk Dunia Bahagia Akhirat Syurga” ^_^

14 September 2014
Devi Pratiwi Sudrajat, S.Pd.

Jumat, 25 Juli 2014

Catatan Hati Seorang Rakyat: Fenomena PEMILU 2014



Setidaknya ini akan menjadi saksi bahwa aku pernah hidup di jaman reformasi dalam bingkai demokrasi, mengambil hikmah dari setiap tragedi di Negeri tercintaku INDONESIA

Jika akhir-akhir ini ibu-ibu bahkan bapak-bapak sedang ramai dengan sinetron yang diangkat dari novel Bunda Asma Nadia yang berjudul “Catatan Hati Seorang Istri”  maka disini kutuliskan sebuah postingan blog ”Catatan Hati Seorang Rakyat”, serangkaian tragedi yang terjadi di tanah pertiwiku INDONESIA. Walau aku tidak menekuni bidang ilmu sosial dan politik atau pun pemerintahan menanggapi berbagai isu dan fenomena di tanah air bukanlah suatu dosa bukan? sebagai warga negara kita memiliki hak untuk bersuara TENTUNYA dengan batas norma dan aturan yang SEWAJARNYA walau terkadang orang-orang menanggapinya secara berlebihan mungkin kusebut negeriku ini adalah “Negeri Para Komentator”. Kemarin sempat ingin ku kirimkan sebuah kolom opini ilmiah ke rubrik media cetak lokal terkait pemilu 2014 ini. Tapi mengingat pada saat itu tulisan ilmiah (re:skripsi) belum kunjung selesai dan opiniku pun belum tentu ada yang berkenan memuat. Lebih baik kualihkan saja energiku untuk hal yang lebih bermanfaat.

Berawal dari pemilihan umum Legislatif
Tepat pada tanggal 9 April 2014 kemarin bangsa Indonesia merayakan yang namaya pesta demokrasi, katanya. Setiap warga negara yang telah memiliki hak pilih tentu berkewajiban untuk memilih calon wakil rakyatnya menuju pemerintahan. Ini bukan pertama kali dalam hidup mengingat tahun 2009 pun aku sudah memiliki hak pilih. Tapi tahun 2014 ini adalah pemilu yang luar biasa bagiku. Apanya yang luar biasa? iya luar biasa capenya sepanjang masa kampanye  baca media massa dengan segala pemberitaannya. Ya ku tahu selama ini media itu pembawa berita untuk mencerdaskan rakyat dengan sikap netral tentunya. Tapi tidak yang kulihat di tahun ini. Setiap kubu saling menjatuhkan berlomba-lomba membuat issu dan fitnah yang mereka bingkai dalam berita. Yang lebih membuat miris situs islami yang selama ini menjadi wasilah syiar dakwah islam pun juga ikut tercemari.
Setiap orang mulai menunjukan karakternya menanggapi berbagai hal, yang lebih menyedihkan adalah para tokoh masyarakat, pejabat, beberapa figur , ustadz, kiayi, pendeta larut dalam pesta demokrasi ini. Temanku bilang di negeri ini akibat terlibat politik praktis para sosok para ulama itu telah menjadi bayaran partai, mereka berdagang ayat di mana-mana, Ustad adalah Usaha Tarik Duit, kitab suci hanya sekedar bacaan dan agama hanya sebuah nama. Naudzubillah.
Harta, tahta, wanita tiga godaan duniawi yang menjadikan manusia akan sangat berbeda. Jabatan yang tidak akan dibawa mati telah membuat buta. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku pada mereka yang aku cintai tapi selalu aku panjatkan do’a tolong kuatkan kami dalam keistoqomahan dan kejujuran agar apa yang kami lakukan bisa menjadi berkah di dunia ini. Ingatkan kami dalam kebaikan karena tak jarang  manusia berubah sedemikian rupa hanya karena sebuah jabatan. 

Calon Presiden - Wakil Presiden 2014