LET's

Minggu, 04 September 2016

Apa kabar hatimu ?

Sudah lama tidak menulis
beberapa aksara begitu berserakan di kepala
tidak tahu harus dari mana memulai merapihkannya
hal-hal lain lebih mengalihkan perhatian.
Pada setiap ruang pikiran pasti ada hal yang sedikitnya menyita perhatian
semakin ingin dilupakan semakin menggerogoti.
jalan terbaik diikhlaskan dengan berbagai proses dan rentan waktu yang tidak bisa ditentukan.

Kali ini mari kita sedikit berbicara tentang hati
yang jika kamu tunjukan adanya di dalam dada
namun hilir mudik diam di kepala.

Raga yang sudah saling bertemu belum tentu dapat menggetarkan reaksi pada hatimu sedekat/sejauh apapun jarak. Seberapa lama pun kamu telah menunggu atau kamu pun bisa saja jatuh hati pada pandangan pertama.
Hati yang kita sebut dengan perasaan suatu naluri yang telah Allah ciptakan hanya untuk manusia.
Ia tercipta begitu istimewa, hanya lewat kehendakNya lah ia akan merasakan berjuta perasaan.
Manusia tidak diberi kemampuan untuk membaca isi hati, seandainya pun bisa mungkin belum tentu bisa untuk saling memahami.
Tidak terbayang jika hati manusia tidak menjadi rahasia lagi. Rasanya tidak seru, tidak akan ada lagi kisah seseorang yang misterius, perasaan yang sedang menunggu malu, rindu yang tidak tersampaikan atau yang sedang saling mendo'akan diam-diam. Itulah sebabnya Allah menciptakan sesuatu dengan batasan tertentu.

Kita tidak akan pernah bisa menebak isi hati seseorang, pun kita juga tidak bisa memaksakan perasaan dua jiwa dalam satu frekuensi yang sama.
Kamu tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu, aku pun tidak bisa memaksa dia untuk mencintaiku.
Ah memang terasa complicated, padahal semua sudah ada yang mengatur.
Tapi itulah manusia.

Mengapa begitu banyak orang yang mengatakan suka, mengubar janji, menuangkan rindu padahal bisa saja semuanya berubah. Hari ini kamu mencintainya bisa jadi esok hari kamu membencinya. Hari ini kamu tidak suka padanya bisa jadi esok dia orang yang paling kamu rindukan ?
Perasaan cinta saja tidak cukup menjadi dasar dua insan membangun kebersamaan, karena perasaan bisa hilang seiring berjalannya waktu,  pada dasarnya hati manusia berubah-ubah seiring suasana hati dan kondisi. Salut rasanya jika dua insan dapat saling setia sebegitu lamanya, saling menjaga komitmennya,  kepada seseorang yang diam-diam masih mengagumi cinta pertamanya, atau kepada seseorang yang selalu menjaga hatinya untuk kekasih halalnya. Semua itu bukan perkara mudah Sebab tidak semua orang mampu berkomitmen. Sesuatu yang dapat mengikat seseorang agar tetap pada niat baiknya.

Seseorang yang belum menikah  katanya hatinya akan lebih mudah terserang virus  terhadap lawan jenis,
Mungkin akibat lalainya kita mengingat sang pencipta yang telah mengatur segalanya.
Namun jatuh dan patah hati adalah hal yang wajar, asal tidak melalaikan kewajiban yang lainnya.
Semoga semua perasaan itu jatuh pada orang yang tepat, seseorang pilihanNya
yang memang benar-benar memperjuangkanmu atau kamu perjuangkan. Menjalin komitmen yang kuat menuju hubungan yang hakiki kedua belah pihak haruslah saling memperjuangan. Jika salah satu saja itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Itulah sebabnya pikiran dan hatimu tidak tenang, terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu menjadi takdirmu.


Tanpa disadari hati bisa keras bisa sakit jika kau tak menjaganya dengan baik.
Hmm dan bagaimana jika dia yang memenuhi ruang hatimu itu bukan Tuhanmu ? 
Kamu lebih memikirkan makhluk ciptaanNya ? Maka mintalah pada Allah yang maha segalanya agar hatimu selalu ada dalam keadaan yang benar.
Datanglah majelis-majelis ilmu agar ada teman baik yang mengingatkan keadaan rukhiyah mu. Ada guru yang dapat membimbingmu dalam kebaikan.
Karena aku selalu percaya hati itu ibarat tanaman yang perlu siraman.

Do'a dibawah ini dikutip dari pesan sahabat  ketika aku meminta nasihat dalam menenangkan hati, yang mungkin sering khilaf juga lalai karena urusan dunia atau perasaan terhadap seseorang yang tidak sebagai mana mestinya.
Do'a yang dimintakan agar kita tetap tegar dan istiqomah diatas agama yang benar.


يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik'

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

يا مقــلـب لقــلــوب ثبــت قــلبـــي عــلى طـا عــتـك
'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Ta'atik'

Artinya: “Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu”
[HR. Muslim (no. 2654)]

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
'Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Tho'atika'

Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim)


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
'Rabbabaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lana Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab'

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
(QS. Ali Imran: 7)


Dari berbagai macam kisah hidup, aku juga kian sadar
Bahwa hidup bukan hanya melulu masalah hati, masalah cinta, masalah kekasih
Hidupku bukanlah drama percintaan yang tak berujung, orang yang menyita pikiran dan perasaan belum tentu memikirkan hal yang sama. Jadi sambil  menanti dengan penuh keikhlasan, banyak hal yang dapat kita jalani tentang cita-cita yang harus kita raih, membahagiakan orang yang kamu sayangi juga menebar manfaat dimanapun kamu pijaki. Memperbanyak belajar, istiqomah dalam memperbaiki diri. In syaa Allah hati dan perasaan ini akan sampai pada tujuannya.

Bandung, 4 September 2016
Devi Pratiwi S

#NasihatUntukDiriSendiri
#Selfreminder
#Semangat

Sabtu, 23 Juli 2016

Suka Karya Dee

Dari begitu banyak karya Dewi Lestari (Dee) kadang saya gagal faham karena diksi tingkat tinggi. Namun ada dua karya pilihannya dalam novel Rectoverso yang dijadikan syair lagu. Dan entah kenapa saya sangat sangat sangat menyukainya.
Liriknya simple namun dalam. 

Malaikat Juga Tahu 
Lirik :  Dewi lestari
Dinyanyikan oleh : Dewi lestari dan Gleen Fredly

Lelahmu...jadi lelahku juga
Bahagiamu...bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati


Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap, 
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu

Siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau selalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu 
Aku kan jadi juaranya


:)

FIRASAT
Lirik : Dewi Lestari
dinyanyikan oleh : Marcell dan Raisha

Kemarin, ku lihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari ku segera berlari


Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi


Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu  sayangku


Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli ku terus berlari


Cepat pulang , cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi


Dan lihatlah sayang
Hujan turun membasahi seolah ku ber air mata
(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
(firasatku) ingin kau tuk cepat pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi) ku hanya ingin kau kembali
(firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi)
Aku pun sadari kau takkan kembali lagi


:(




Selasa, 28 Juni 2016

Kebaikan dari masa lalu untuk masa depan

Tulisan ini saya awali dengan cerpen karya mas gun  yang saya kutip dari bukunya “ Lautan Langit “

Karya : Kurniawan Gunadi

“Ada dua jenis orang baik di dunia ini yang aku temukan sepanjang melakukan perjalanan,” ujarku pada temanku suatu sore.

“Bagaimana kamu bisa mengklasifikasikannya menjadi dua?” tanya temanku heran.

“Dengan menemukan mereka dan mengetahui potongan hidupnya”, jawabku.
Temanku mengernyitkan dahinya. 

“Orang baik jenis pertama adalah orang-orang yang sedari kecil terjaga, memiliki lingkungan tumbuh yang baik, memiliki orang tua yang baik, teman yang baik, hingga mereka hampir tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal buruk dengan kadar serius. Hanya kenakalan kecil yang masih wajar”

“Yang kedua?” tanyanya.

“Orang baik yang kedua adalah orang-orang yang dulunya bukan orang baik, tapi berubah menjadi orang baik. Orang jenis ini lebih banyak daripada jenis pertama. Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari kelam hidup sebelumnya,” tambahku.

“Aku mengerti, cerita orang pertama itu sebagaimana Rasululloh SAW. Ia terjaga bahkan sejak lahirnya. Orang kedua adalah seperti sahabat-sahabat nabi, mereka adalah orang-orang dengan masa lalu yang kelam, tapi berhasil keluar dari semua itu dan menjadi orang yang luar biasa baik,”

“Iya dan saat ini orang jenis kedua ini biasanya lebih bijaksana dalam menghadapi hidup karena mereka tahu dan pernah menjadi orang jahat”, aku melengkapi.

“Apakah kita termasuk orang baik jenis kedua?” tanyanya.

“Aku harap kita demikian. Aku menemukan di luar sana banyak orang ingin menjadi baik, tapi tidak tahu caranya. Ada yang ingin menjadi baik, tapi orang lain sibuk mencacinya dan menganggapnya cari muka. Mereka ingin mengubah dirinya, tapi lingkungan justru tidak mendukungnya. Mereka ingin mengubur masa lalunya yang kelam, tapi orang lain senang sekali menggalinya.”

Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Apakah kiranya ada orang yang bisa menerima kita dengan masa lalu sekelam ini?” tiba-tiba kawanku ini bertanya resah.

“Maksudmu?” aku ingin memperjelas pertanyaannya.

“Orang yang bisa menerima orang seperti kita menjadi pasangan hidupnya? Bahkan aku takut untuk memikirkan itu karena aku merasa tidak cukup pantas untuk itu”, tatapnya kosong.

Aku ikut menatap langit-langit dengan kosong.

“Entahlah, bila ia bisa menerima. Mungkin ia bukan manusia, mungkin malaikat”, jawabku.
Kami tenggelam dalam keresahan kami masing-masing.

Cerita Hikmah :
Devi Pratiwi S, 22 Ramadhan 1437 H
Pada sabtu malam sebulan yang lalu di pertengahan bulan shaban, saat itu saya sedang mengikuti kajian di sebuah mesjid yang biasa mengadakan kajian keputrian sabtu malam menuju ahad pagi sambil mabit, sebelum acara dimulai seperti biasanya ada tasmi’ al Qur’an biasanya, ada yang mengulang hafalan, lalu ada yang menyimak/mengikuti. Ketika akan hendak posisi untuk duduk, saya memperhatikan wanita yang sedang mengulang hapalannya tersebut suaranya sangat indah ia membawakan surat Al-Mujadallah. Wanita manis berlesung pipit,  berkulit sawo matang. Rasa-rasanya saya mengenalnya, saya beralih posisi duduk ke bagian tengah sekitar shaf ke tiga. Ya benar dia adalah kawan lama saya, hampir beberapa tahun kami tidak bertemu. Selepas ia mengalami “tragedi” dan pergi meninggalkan rumahnya. Kedua orangtuanya pun sepertinya sudah tidak tinggal di Bandung lagi.  Saya sulit menghubungi dia. Tidak pernah menyangka bahwa Allah akan mempertemukan kami di majelis ilmu ini. Dia jauh sangat berubah.

          Entah apa yang terjadi selama ini dalam perjalanan hidupnya. Setau saya dulu ia memiliki masa-masa yang sulit, putus sekolah, pergaulan bebas terlebih semenjak kedua orang tuanya bercerai. Kami mengobrol cukup lama setelah kajian selesai  sekitar pukul 21.00 . Saya tidak terlalu menyinggung bagaimana kehidupan dia di masalalu saya lebih suka bagaimana dengan keadaan dia sekarang. Saat ini ia sedang menjalani masa perkuliahannya di salah satu universitas di Bandung selepas ujian kesetaraan SMA. Yang lebih membuat saya tercengang, dia kini sudah menikah. Ia menikah dengan seorang pengusaha alat shalat di beberapa pusat perbelanjaan kota bandung walau usia suaminya terpaut  lebih muda ia mampu menerima segala masalalu teman saya ini. Bagaimana Allah membuat skenario yang berbagai macam alur cerita kepada setiap makhluk yang diciptakan? Betapa Allah selalu membukakan pintu rahmat kepada setiap orang yang mau bertaubat. Betapa ada manusia-manusia yang baik hatinya yang mau menerima dan merubahnya ke arah yang jauh lebih baik.


Bercermin dari kisah hidup kawan lama tadi betapa dulu sempat berpikir untuk tidak bergaul dengannya lagi, betapa dulu sempat saya bersuudzon tentang masa depannya. Disitulah saya semakin sadar boleh jadi orang yang berbuat buruk saat ini dimasa depan ia akan jauh lebih baik daripada diri kita saat ini.

Sebagai umat muslim kita pernah mendengar kisah beberapa sahabat Rosulullah SAW. Betapa bengisnya Umar ibn Khatab kepada Rasul dan umat islam namun pada akhirnya justru ia menjadi khalifah yang mati-matian membela agama Allah. Baik-buruk kehidupan kita di masalalu Allah yang berhak menilai dan memutuskan untuk mengampuni kita. Karena berkali-kali dalam Al-qur’an disebutkan bahwa Allah maha pengampun maha penyayang terhadap dosa hambanya yang bertaubat kecuali dosa syirik.

Bisa jadi kita memiliki masa lalu yang kelam. Yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa-masa itu,sebagaimana kita tidak ingin orang lain menilai kita dengan melihat masa lalu tersebut. Kita terlihat baik dan sempurna itu karena Allah yang selalu menutup aib-aib kita. Kewajiban kita pula untuk menutupi aib tersebut baik aib diri sendiri maupun orang lain, bukan malah menggalinya mencari kesalahan-kesalahannya.

Bagaimana ia berjuang untuk menjadi lebih baik demi masa depannya, kita mungkin tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dalam sulitnya proses berhijrah meninggalkan sesuatu yang salah itu mungkin tidaklah mudah, apalagi melupakan masa-masa kelamnya, berusaha bangkit untuk menjadi insan lebih baik bukan untuk citra di depan manusia tapi mengharap ridha dari Allah SWT.

Rasulullah bersabda, "Amalan-amalan itu tergantung akhirnya". (HR.Bukhari Muslim & Al-Baqarah132 dan lihat QS. An-Nisa 18)

Siapa yang tidak ingin memiliki kehidupan akhir yang baik “Husnul khatimah”waktu akhir kehidupan kita tidak ada yang mengetahui untuk itu semoga kita selalu menjadi insan yang memperbaiki diri saat ini dari kemaksiatan di masalalu demi masa depan yang lebih baik.

Saya bertanya padanya :  Bagaimana proses terberat dalam hijrahnya?

Ia menjawab : Allah,keluarga,suami juga orang lain mungkin bisa memaafkan dan menerima. Tapi yang terberat adalah memaafkan diri sendiri, kenyataannya jauh lebih sulit dari memaafkan kesalahan orang lain. Karena orang lain bisa saja pergi menjauh, sementara kesalahan diri tetap ada di dalam diri kita setiap hari ditemui.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang terjaga dirinya dari berbagai kemaksiatan sedari kecil, terdidik dengan ilmu agama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan, tapi bersyukur itu juga berlaku kepada orang-orang yang Allah beri kesempatan untuk membenahi dan memperbaiki diri atas kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu sebelum ajal menjemput keduanya in syaa Allah termasuk orang yang baik. Untuk itu semoga kita bukan termasuk orang yang sering menjudge seseorang, karena bisa jadi orang yang lebih buruk dari kira hari ini di masa depan ia akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tugas kita hanyalah saling menasehati dan mengajak dalam kebaikan.

hidayah itu bisa kapan saja datang kepada diri, namun mari tanyakan pada hati seberapa siapkah kita menjemput hidayah tersebut. Tanpa paksaan, tanpa bantahan. Ini semacam cambukan terhadap diri saya sendiri yang terkadang masih lalai, masih jauh dari keshalihan, masih seing riya bahkan mungkin takabur. Padahal mungkin malaikat maut bisa kapan saja datang menjemput tanpa bertanya kesiapan kita kembali padaNya tanpa peduli sudah berapa banyak bekal kita untuk dibawa pada kehidupan setelahnya.  Semoga Allah selalu memberi kesempatan dalam bertaubat mengistiqomahkan dalam kebaikan. Aamiin

Wallahu’alam bishawab

"Kamu jauh lebih berharga dari apa yang kamu pikirkan. Masa lalu tinggalkan di belakang, dan mulai fokus pada masa depan. Setiap manusia itu pendosa. Bukan berarti tidak memiliki masa depan yang mulia." – Anonim-



Minggu, 22 Mei 2016

[Tentang Malam dan Segala yang Kuharap Diam-Diam]


Kamu mungkin tidak tau betapa aku menyukai malam
Malam itu gelap namun menentramkan
Ada celah untuk memaafkan, 
Ada ruang untuk melupakan kealfaan siang
Disana terletak harapan menyambut pagi
dengan cerita yang baru


Kita yang tenggelam ditengah tumpukan rutinitas
Terlarut dalam kejamnya kesibukan
Bercampur  kerumitan tak jelas perasaan
Aku masih saja sempat menuliskan fatamorgana kerinduan
Tentang arti sebuah kesendirian saat kau tak ada
Tak tau harus ku kirim kemana bait syair-syair ini
Yang ku tau mendo'akanmu bukanlah suatu dosa

Kamu tau?
Selalu ada cara Tuhan untuk menguji hambaNya dengan persoalan
yang palin personal, tapi aku tetap diam menikmati segala proses pendewasaan
Tetap  disini dengan segala usaha dan harapan
Entah untuk meraih cita atau sekedar memanfaatkan kehidupan

Untuk itu
KepadaNya segala urusan kita kembalikan.
Karena langit adalah batasan segala impian
Kerena ridha Allah adalah pangkal muara ikhtiar dan do'a.


Semoga segala urusanmu urusanku Allah mudahkan, pada Malam waktu kita bertawakal dan siang sebagai jalan ikhtiarnya.


20-Februari-2016 (Dengan segala perbaikannya)
Devi Pratiwi Sudrajat

Lokasi Gambar : Oraya Tapa, Cimenyan Bandung

Sabtu, 21 Mei 2016

Ketika Tuhan Menciptakan Makhluk Melankolis

Entahlah mengapa Tuhan menciptakan makhluk melankolis? katanya ciri-ciri dari sifat melankolis itu pemikir, sensitif, teratur, suka menulis dan romantis ( sifat yang terakhir boleh lah diabaikan) karena sangat merasa diri jauh dari itu. Selain itu saya juga sedikit agak plegmatis. Apa bedanya? disini saya tidak akan mendefinisikan sifat-sifat tersebut karena bukan psikolog dan ahlinya, untuk itu kalau penasaran boleh sedikit buka mbah google atau KBBI.  

Mungkin saja Tuhan menciptakan saya dari banyak makhluk yang seperti itu Plegmatis & Melankolis. Disaat segala aktivitas yang membuat jenuh selalu dan selalu saya ingin menulis segala yang terjadi dipersinggahan dunia yang fana ini.Saya tidak pernah tahu untuk siapa tulisan-tulisan ini sosok abstrak yang selalu menjadi bait diantara deretan do'a. 

Menulis menyukai sastra adalah keproduktifan yang dapat saya lakukan penetralisir segala pemikiran yang selalu saya geluti setiap hari dalam akademik, dalam karir  "SAINS (KIMIA)" yang dinetralisir dalam "SASTRA". Ya dengannya saya hidup dengannya diri merasa lebih bermakna dengannya diri merasa bahagia.

Beberapa minggu ini aktivitas cukup padat mengajar persiapan UN SMA,UAS, SBMPTN juga tugas perkuliahan yang tidak mereda menjelang UAS semester genap. Selain tuntutan  untuk menulis karya ilmiah dalam bentuk proposal untuk Tesis, saya malah sering melahirkan tulisan-tulisan puisi, cerpen, prosa, atau sekedar pengalaman hidup amatiran  yang entahlah semoga keduanya bisa bersinergi untuk kemajuan, perbaikan dan tidak melalaikan.

Sedari kecil saya memiliki kebiasaan menulis diary yang kadang orang bilang itu hanya membuang waktu tapi sungguh itu sangat menyenangkan. 
Menulis saya anggap sebagai kebutuhan, karena dengan menulis saya bisa berbagi apa yang tidak dapat saya beri, tidak dapat saya ungkapkan, semoga setiap postingan dapat dijadikan hikmah, nilai atau sedikit inspirasi. Pun saya memiliki batasan tentang apa saja yang harus atau tidak saya ceritakan atau saya imajinasikan.

Inspirasi bisa datang dari siapa saja, kapan saja. Tidak harus dari seorang sosok, tidak harus dari pengalaman sendiri. Tapi pengalaman, perasaan hidup akan menentukan bagaimana rasa dan filosofi dari setiap bait yang tertulis.
Tidak banyak orang yang dapat menciptakan bait-bait indah dalam tulisannya, jika pun berhasil maka beruntunglah sesuatu/seseorang yang menjadi inspirasi bagi penulis.

Ada beberapa yang beranggapan bahwa manusia pencinta sastra, sosok yang sering menulis puisi adalah "orang-orang yang mellow,  galau, lebay dan baperan?" saya sama sekali tidak peduli tanggapan itu.  Setiap manusia memiliki hak untuk berekspresi.   Tidak peduli bagus atau jelek, suka atau tidak suka, akan ada yang mau membaca atau tidak. Melalui tulisan, lukisan, musik, olahraga dan apapun yang membuat dia merasa hidup ini lebih bermakna. Karena Allah SWT telah memberikan akal pikiran, potensi, minat dalam diri setiap manusia dengan segala perbedaanya.

Zaman sekarang memang mungkin sedang ngeHitz orang bilang baper,kepo,galau,labil dan kawan-kawannya seperti yang pernah mbah sujiwo tedjo katakan :


" Lama-lama orang males romantis, karena entar dibilang GALAU
males peduli karena takut dibilang KEPO
males mendetail karena takut dibilang REMPONG
males mengubah-ubah point of view dalam debat karena takut dibilang LABIL
lama-lama generasi mendatang males berpendapat karena takut dikira CURHAT" - Sudjewo Tejo



Tapi bagaimanapun in syaa Allah saya akan tetap menulis, do'akan juga ya supaya proposal tesis nanti diterima dilancarkan untuk menulis sebuah buku ajar bagi peserta didik SMA terutama dalam pembelajaran Kimia di Sekolah, selepas S1 dulu skripsi saya menganalisis tentang buku ajar . aamiin ^_^ #MelencengDikitMintaDoa

Menulislah walau kertas tak lagi bersama pena, tapi tintanya mampu merekam saat dimana kau ingin kembali memutarnya, menulislah walau kata tak lagi bermakna setidaknya ketika suatu saat kau tidak bisa menemukanku lagi, kau masih bisa membaca deretan tulisan sederhana ini karena menulis dan membaca mereka adalah kawan sejati saat berperang melawan sepi

- Devi Pratiwi Sudrajat, si Melankolis dan Plegmatis"


Lokasi Gambar : Dimeja belajar saat bingung bedakan mana buku mana kasur -_-"




Jumat, 13 Mei 2016

Coretan Pendek dalam Kisah yang Panjang (I)


[Kalimat Utuh]


Pohon itu tidak bisu
ia bersaksi pada angin
bahwa kita pernah saling membahagiakan walau dalam keadaan tersesat

Genangan air itu kan mengering tapi tidak dengan kenangan setiap ingatannya ku potret dalam tulisan membentuk subjek dan predikat menjadikannya kalimat utuh namun sederhana diantara kita
Masih mau menapaki kembali jalan ini bersamaku?



-5 Mei 16-
DeviPs.








Lokasi Gambar : Taman Hutan Raya Ir. Juanda ( Dago Pakar )



==========================================================


[Waktu~Jarak]

Jika waktu ini adalah ujian iman,
maka izinkanlah kesabaran ini lebih luas dari waktu yang telah Engkau tetapkan

Jika jarak ini adalah ujian taqwa,
maka izinkanlah do'a yang terlantunkan menjadi perisai dimana pun ia berada.

Bandung, 27-Maret-2016
Devi Ps






======================================================= 


[Filosofi Jembatan]



Jembatan tercipta untuk menghubungkan dua ranah yang bersebrangan,

ada ketika kita tak bisa melewati tujuan hanya dengan satu lompatan kaki.

Ia berwujud suatu jalan yang menyatukan, butuh pondasi yang kuat bahkan di atas jurang pemisah yang begitu curam.
Jika boleh dianalogikan jembatan itu adalah Do'a,


menghubungkan yang tak bisa direngkuh, menyatukan yang terasa berbeda.






-Devi Ps


11-Oktober-2015






Lokasi Gambar : Ciwangun Indah Camp Lembang






Kamis, 12 Mei 2016

Potensi Anak dan Problematikanya


Dalam diri manusia Tuhan YME ciptakan potensi yang beragam. Dulu ketika saya sekolah terkadang sedih jika mendapat nilai Bahasa Inggris saya yang lebih sering remedial dibanding nilai eksak. Atau daya minat saya jauh lebih suka mata pelajaran kimia daripada fisika. Pernah suatu ketika saya menangis di tempat bimbel karena takut menghadapi UN Fisika SMA. Tapi apa yang terjadi ternyata nilai Fisika saya memuaskan justru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang sedikit pas-pasan. Sering saya mendapati murid saya berbohong pada orang tuanya, Ia terkadang memalsukan tanda tangan ketika nilai ulangan di sekolahnya jelek. Kebetulan saat ini saya masih mengajar di bimbingan belajar tidak sedikit orangtua yang menuntut saya untuk membuat nilai kimia anaknya tinggi di sekolahnya, padahal saya tau bagaimana potensi dan minat anak tersebut saya hanya berusaha membantu dia dalam belajar bagaimana membuat anak tersebut terasa mudah dalam memahami pelajaran, atau setidaknya membuat anak itu sedikit tertarik kepada mata pelajaran yang lebih banyak abstraknya ini. Seberapa sering saya memberikan jam tambahan malah membuat anak menjadi jenuh itu artinya selebihnya kembali kepada potensi anak tersebut sebagai guru/pendidik kami pun tidak bisa memaksakan.   

Disadari atau tidak potensi anak ada batasnya. Jika kita bicara soal teori  psikologi pendidikan,  Vgotsky menjelaskan bahwa setiap anak memiliki Zona of Proximal Development (ZPD) yaitu tingkat perkembangan aktual (mandiri) dan tingkat perkembangan potensial bimbingan. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Intinya dalam perkembangan diri anak dapat dibantu dengan dua hal secara intern ( kemandirian dan ketertarikan anak itu belajar ) dan  ekstern ( bantuan sekolah, bimbel, privat ). Keduanya harus saling bersinergi jika ingin mencapai hasil yang optimum .
 
Sumber Gambar : su-soku.com



Namun sekali lagi potensi yang dimiliki anak berbagai macam. Potensi sendiri ditentukan oleh dua hal yaitu minat dan bakat, perbedaannya adalah minat merupakan suatu ketertarikan sehingga anak berusaha untuk mampu mencapai sesuatu. Sedangkan bakat merupakan anugrah yang Tuhan berikan sedari lahir. Itulah pentingnya orang tua dan pendidik mengetahui potensi minat dan bakat yang dimiliki anak.

Ada yang pintar matematika namun lemah di bahasa, ada yang daya hitungnya lemah namun kuat di hapalan. Anaknya ingin masuk jurusan IPS tapi orangtua memaksakan jurusan IPA ditengah perjalanan anak menjadi malas-malasan belajar.

Oleh karena itu sebaikanya kita tidak terlalu memaksakan atau berfokus pada keterbatasan. Jadikan keterbatasan itu suatu peluang untuk nantinya kita dampingi agar tidak menjadi kelemahan yang menghambat, namun alangkah lebih baik lagi kita berfokus pada kelebihan untuk nantinya dapat dikembangkan dalam setiap diri potensi anak tersebut.

#SemogaPendidikanIndonesiaJauhLebihBaik :)
12-Mei-2016
Oleh : Devi Pratiwi S,Pd